Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts
#miladke7revowriter
#revowriter
#menulisuntukperadabanmulia
#akudanrevowriter







"Hai Lulu, mengapa wajahmu muram? Bukankah langit cerah pagi ini?" Tanya Lili seraya berlari-lari menghampiri dengan kaki kecilnya.

"Ah, kamu di sini juga Lala. Baru saja aku akan mengajak kalian ke bukit. Matahari bersinar hangat. Kita ajak peri Minah juga ya," seru Lili di antara nafasnya yang terengah-engah.

Dua peri kecil, Lala dan Lulu tampak tidak bergairah. Lala bertopang dagu. Lulu mencoret-coret tanah dengan sebatang kayu kecil.

"Apa yang terjadi? Apakah peri Minah tidak ada? Tapi aku dengar goresan penanya dari dalam," kata Lili menoleh ke arah rumah peri Minah. Dengan langkah bergegas, ia menuju pintu.




"Peri minah...," Lili berbisik perlahan di pintu rumah peri Minah.
"Peri Minah, keluarlah. Bunga-bunga kuning bermekaran di atas bukit. Aku ingin mengajakmu. Bukankah kita ingin ke sana saat bunga-bunga itu mekar? Engkau sudah berjanji akan bacakan cerita," kata Lili dengan menempelkan mulutnya di pintu.


Tiga peri kecil ini sering pergi ke bukit bersama peri Minah. Mereka bermain bersama, menikmati angin sepoi-sepoi, sambil berlari-larian, bernyanyi, dan tidur di rumput hijau mendengar peri Minah bercerita. Setiap kali libur sekolah tiba, mereka menjemput peri Minah dan mengajaknya ke sana.


"Peri Minah, apakah aku boleh masuk?" Lili membuka pintu, tak terdengar suara Lala dan Lulu yang mencegahnya secara bersamaan, "Jangan Lili!"

Tiba-tiba, brugghhh!! Buku-buku jatuh menimpa Lili. Ternyata rumah peri Minah penuh buku. Pintu rumahnya tertutup karena buku-buku yang ditulisnya memenuhi ruangan.




"Maafkan aku, Lili. Aku harus menulis. Malam ini akan turun hujan. Sudah lama sekali tak ada hujan. Anak-anak manusia ingin membaca. Itu sebabnya aku harus menyelesaikan tulisanku," peri Minah berkata dengan lembut sambil mengusap bagian tubuh Lili yang tertimpa buku-buku.


"Kalian pergilah ke bukit. Sudikah kiranya kalian petikkan beberapa tangkai bunga kuning untuk menghiasi mejaku? Selesai menulis, aku akan ceritakan sebuah kisah bagus buat kalian."


"Janji ya," kata Lala.

"Kalau begitu, kami pergi lebih dulu ke sana. Kau akan segera menyusul?" Tanya Lulu.

"Iya, segera setelah tulisanku selesai aku akan menyusul kalian," kata peri Minah memeluk ketiganya.

Lala, Lili dan Lulu mengangguk lalu mereka berlari dengan berceloteh riang gembira ke arah bukit. Peri Minah tersenyum melepas kepergian mereka. Bukit memang terlihat indah dari tempatnya berdiri. Dari jauh tampak bunga-bunga kuning bagai hamparan menyelimutinya.




****************




"Tampaknya malam ini akan hujan, bunda," kata seorang gadis kecil di bumi dengan mata setengah terpejam.
Terdengar suara petir diseling kilat sambar menyambar. Cahayanya menembus tirai.

"Iya, sepertinya begitu," bunda menjawab.

"Bunda, bangunkan aku pagi-pagi sekali ya. Besok akan ada banyak buku dari Negeri Peri. Aku rindu ingin membaca. Teman-temanku pun sama. Telah lama sekali mereka tidak membaca buku. Malam ini aku ingin bermimpi tidur bersama buku-buku," gadis kecil itupun terpejam.
Terdengar nafasnya yang halus mulai teratur, di balik selimut.

"Tidurlah, besok akan bunda bangunkan pagi-pagi sekali," kata bunda seraya mengecup keningnya.

Tak lama terdengar butir-butir air hujan jatuh satu persatu membasahi kaca jendela. Wangi tanah basah menyeruak malam yang sunyi.
Bunda tersenyum, terbayang olehnya anak-anak akan bersuka cita esok dini hari, menyambut turunnya buku-buku dari langit.


******************




"Nah, apakah kalian tahu mengapa kita harus menulis?" Tanya Ratu Peri Cikgu.
"Lihatlah betapa riang anak-anak manusia menyambut hujan. Mereka menunggu buku-buku kita. Hati dan pikiran mereka harus diisi dengan kebaikan. Jika tidak, maka hal buruk yang akan mengisinya. Dan monster jahatpun dengan mudahnya menguasai dan menerkam mereka."

Para peri berkumpul di aula besar Negeri Peri, mendengar kuliah dari dari Ratu Peri Cikgu. Seluruh mata peri memandang ke arah layar besar di ruang aula.
Tampak anak-anak manusia berlarian di pagi hari menyambut hujan tulisan. Mereka menangkap buku-buku dengan riang gembira, dan segera mencari tempat yang nyaman untuk membaca.



"Apakah mereka cukup mendapatkan buku? Adakah anak yang tertinggal, tak mendapat satupun? Jika masih kurang, kita harus lebih banyak menulis esok hari," Kata Ratu Peri Cikgu.

"Jangan lupa, orang berilmu harus menulis. Sebab jika tidak, orang bodoh yang akan menyebarkan kesesatan."
Kuliah pagi ini ditutup oleh ratu peri Cikgu.

"Apakah aku bisa sepertimu, peri Minah?" Tanya Lulu saat meninggalkan aula.
Lili dan Lala menatap peri Minah seolah bertanya hal serupa. Mereka menunggu jawaban.

"Kalian mau menulis juga? Ayo ke kelas supaya kalian bisa menulis seperti aku," kata peri Minah.

"Yeyeii, aku mau tulisanku turun bersama hujan," kata Lili melonjak-lonjak kegirangan.

"Aku juga. Aku akan menulis yang banyak seperti dirimu, peri Minah," kata Lulu.




*********************




Once upon a time, in a far away kingdom there is a fairy land. The fairies are good at writing. The fairy queen named Cikgu, led her region with a very wise and prudent. She teach all of the fairy to write. All fairies produce many written.

And then their writing goes down along with the rain, which soaks the earth. All of children are waiting for rain. Hope the books and writings that come with it. They like to read writing from fairy land.

Meanwhile, the fairies live happily and love each other, until the end of time. And still  always write.

By. Lulu


Ilustrasi pinterest
#KulwaTipsMenulisUntukEksis
#PRNgajiLiterasi
#KomunitasNgajiLiterasi
#day3


Dahulu kala di Negeri Peri, para peri tidak pandai menulis. Kehidupan berjalan seperti biasa. Mereka bersama, saling menyayangi tanpa ada perselisihan. Kehidupan berjalan tenang. Suasana damai menyelimuti Negeri Peri yang indah.


Hingga pada suatu ketika, Ratu Peri Cikgu meminta para peri untuk hadir. Seluruh peri bertanya-tanya, apakah gerangan yang membuat ratu peri mengumpulkan mereka? Adakah suatu pengumuman yang penting dari istana?




Maka seluruh peri bergegas berkumpul di alun-alun negeri. Sebuah tempat yang sejuk dan nyaman, beralaskan lantai marmer yang dingin dan bersih mengkilat. Seluruh peri berkumpul di sana, siap mendengarkan pesan ratu.


Ternyata saat itu ratu sedang gusar. Melihat anak-anak manusia selalu dalam intaian raksasa jahat yang siap menerkam mereka setiap saat. Anak-anak tersebut tidak sadar, bahwa mereka akan menjadi santapan monster jahat.



Maka kemudian, ratu peri membuka kelas menulis. Menyeru kepada seluruh peri cantik dan pintar untuk ikut di dalam kelas. Akhirnya mereka pun mempelajari berbagai macam bentuk tulisan. Dan setiap tulisan terbaik, selalu mendapat hadiah sepatu kaca dari Ratu Peri Cikgu.



Seluruh peri berlomba ingin mendapat hadiah. Hingga sejak saat itu, setiap waktu mereka terus menulis. Tidak ada hari yang kosong tanpa karya dari para peri. Tulisan peri baik hati, memiliki mantera sakti menjaga anak-anak manusia dari terkaman raksasa jahat.


Oleh sebab itu, jika saat ini kita melihat hujan. Perhatikanlah, jangan-jangan itu adalah hujan tulisan yang diturunkan para peri. Tulisan-tulisan indah yang selalu ditunggu anak-anak manusia. Yang menjaga dan melindungi mereka sampai akhir masa.



Ilustrasi: https://pinterest.com/pin/527202700110840192/?source_app=android

Cirebon, 6/11/2018,  Selasa pukul 20.32


#KulwaTipsMenulisUntukEksis
#PRNgajiLiterasi
#KomunitasNgajiLiterasi
#day2




Masih ingat Negeri Peri yang indah itu? Negeri yang seluruh perinya bersuka cita membuat tulisan-tulisan indah. Hari-hari mereka senantiasa dalam kesibukan. Tulisan mereka bagai hujan di tengah kemarau panjang. Membasahi, menyejukkan, menginspirasi, membuang segala kotoran dan kerusakan.


Alkisah di Negeri Peri, para peri berlomba menghasilkan tulisan. Tidak ada peri yang termangu atau bertopang dagu. Semua peri menghasilkan karya. Namun ada seorang peri yang tampak berbeda. Peri ini sangat cantik dan pemalu. Dia selalu menutupi wajahnya. Tapi peri ini istimewa. Dia sangat rajin menulis. Peri Minah Mahabbah, namanya.




Jumlah hari dalam sebulan kalah banyak dibandingkan jumlah tulisannya. Dia menulis seolah berlari. Menulis terus, dan terus, sepanjang waktu. Dan tulisannya tayang dimana-mana. Berkali-kali dia bahkan mengalahkan rekornya sendiri. Belum ada peri yang sanggup menulis sebanyak peri Minah. Apalagi melampauinya.


Ketika peri Minah sakit atau terhalang menulis dalam 1 hari. Maka ia akan menggantinya di hari yang berbeda. Begitu seterusnya. Hingga tidak ada satupun hari berlalu tanpa menulis. Setoran menulis sebulan selalu full. Peri Minah sangat fokus. Menulis untuk melindungi anak-anak manusia dari ancaman musuh.


Semua peri ingin seperti peri Minah, begitu pun aku. Maka seluruh peri berusaha mempelajari. Mencari rahasia, bagaimana peri Minah bisa menjadi seperti itu.
Ah, ternyata rahasia peri Minah ada pada jam ajaib.
Jam ajaib selalu mengingatkannya untuk menulis setiap hari. Malah dalam 1 hari, peri Minah bisa menghasilkan lebih dari 1 tulisan.
Berarti jika ia mampu melakukan itu, maka seluruh peri pun bisa. Termasuk juga aku.




Maka kini setiap bulannya aku selalu menempel di belakangnya. Karena peri Minah berlari. Aku pun ikut berlari mengejarnya.  Aku ingin samakan langkahku. Tak terhitung masa-masa aku baper atau lelah sehingga menulis terasa sangat sulit bagiku.





Namun aku berusaha kembali fokus, seperti peri Minah. Masih belum bisa melampauinya. Tapi aku tetap berlari di belakangnya. Mengejarnya.

Berlarilah terus peri Minah, aku akan terus mengejarmu!




Ilustrasi: http://pinterest.com/pin/612982199259156368/?source_app=android

Cirebon, 5/11/2018. Senin, pukul 20.13

#KulwaTipsMenulisUntukEksis
#PRNgajiLiterasi
#KomunitasNgajiLiterasi
#day1



Pada suatu masa, ada sebuah Negeri Peri yang indah. Penuh bunga berwarna-warni. Sawah dan ladang luas terhampar. Cahaya mentari hangat berpendar-pendar. Karena keindahannya, negeri tersebut diberi nama laksana perhiasan. Zamrud, batu permata yg berwarna hijau seperti lumut. Negeri zamrud, negeri peri.


Para peri hidup dengan damai. Peri-peri cantik dan baik hati. Tua dan muda. Mereka saling menyayangi dan mengasihi. Tidak ada kebencian. Juga tidak ada dusta di antara mereka, pastinya. Saling menyemangati. Mendukung satu dengan yang lain. Membantu dan menguatkan.




Uniknya, peri-peri di negeri itu suka menulis. Berbagai macam tulisan mereka pelajari. Ada fiksi, feature, cerpen, opini dan lainnya. Terakhir beberapa hari lalu mereka belajar membuat surat pembaca. Semua peri bergairah untuk belajar. Peri-peri senior siap mengajarkan ilmunya. Peri yunior siap menerima ilmu.


Karena semangat belajar, tidak jarang beberapa peri belajar di kelas menulis lain yang beragam. Mendua, mentiga. Sehingga akhirnya para peri akan bertemu teman-teman yang sama berkali-kali di kelas-kelas yang berbeda.




Jangan ditanya suasana belajar di Negeri Peri. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sangat menyenangkan. Bahkan tidak hanya itu, peri senior menghasilkan buku. Peri lain mengirim ke media online atau media cetak.


Tulisan-tulisan mereka, bagaikan hujan di siang hari yang terik. Sejuknya menyegarkan, masuk ke semua celah tanah yang kering. Menyegarkan. Membasahi. Menghidupkan tumbuhan yang mati. Mengikis semua kerusakan.


Inilah Negeri Peri. Sebuah negeri yang para perinya tak pernah berhenti menghasilkan karya. Bukan hanya sebuah, tapi banyak. Agar anak-anak manusia selamat dari bahaya, dan merasakan bahagia hingga akhir masa.








Ilustrasi: http://pinterest.com/pin/403072235374644741/?source_app=android

Cirebon, 4/11/2018, Ahad pukul 21.05
Powered by Blogger.