Biografi Abdul Azis Al-Badri, Pejuang Syariah Dan Khilafah Dari Irak

0 Comments


Pagi itu, 26 Juni 1969 berita kematian Syaikh dengan cepat menyebar, bersama angin yang berhembus di Baghdad. Bagaimana tidak, para ikhwah dan keluarga Syaikh selama ini bertanya-tanya dimana keberadaan Syaikh. Akhirnya  terjawab saat Syaikh kembali dengan tubuh terbujur kaku terbaring dalam peti kayu dari Penjara Guantanamo. Petugas melarang membuka peti tersebut, dengan mengatakan bahwa Syaikh sudah dimandikan dan dikafani.


Akan tetapi saudara-saudara seperjuangan Syaikh mengusulkan peti dibuka untuk mendeskripsikan jasad Syaikh terutama di bagian-bagian cedera. Maka ketika peti tersebut dibuka dan kafan Syaikh disingkap, tampak luka mengerikan di sekujur tubuhnya. Darah menutupi telinga kanannya. Janggut Syaikh yang panjang terpotong. Jasad yang terkoyak-koyak akibat siksaan yang luar biasa, jelas terlihat. Jari-jari patah, luka bakar dan pendarahan akibat alat pemotong dan penggigit yang beragam. Tujuh belas hari Syaikh hilang, hingga akhirnya fakta ini menegasikan informasi yang ditandatangani oleh Dokter Shabah Paul dari Rumah Sakit Militer Ar Rasyid bahwa Syaikh meninggal akibat tekanan darah rendah.


********

Syaikh Abdul Aziz Al-Badri lahir di kota Baghdad tahun 1929 M. Seorang ulama pemberani. Pengemban dakwah. Penulis buku dan politisi. Sekalipun tinggal di Irak. Aktifitas Syaikh merambah ke berbagai negeri seperti Syam, Suriah, Yordan, Libanon dan Palestina. Beliau mengingatkan tentang bahaya kesukuan dan ide nasionalisme. Beliau juga kerap kali mengikuti berbagai persoalan umat. Syaikh mengingatkan akan pentingnya persatuan umat.


Pada musim haji, beliau pun berdakwah seperti yang pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Salam. Beliau memahami bahwasanya haji bukan hanya manasik dan masyair saja. Akan tetapi sekumpulan aktifitas politik lain yang sengaja dihilangkan oleh musuh-musuh Islam. Maka Syaikh melakukan pertemuan-pertemuan antar pengemban dakwah, saling bertukar informasi dan menyusun rencana untuk menyamakan gerak dan menentukan tujuan. Beliau mengadakan kegiatan penyadaran melalui khutbah, peringatan dan menjelaskan jalan untuk kebangkitan.


Beliau juga menolak semua kondisi tidak syar'i yang dipaksakan di negeri-negeri muslim. Menyerang kediktatoran politik, kezaliman sosial dan ketidakadilan ekonomi. Beliau menentang penguasa yang hidup mewah serta tidak mengurusi rakyat dengan baik. Membuat rakyat menjadi miskin dan hidup sempit. Syaikh pun hidup serba kekurangan. Akan tetapi iming-iming harta dan kedudukan dari penguasa tidak melunturkan semangat untuk terus memperjuangkan Islam.


Di antara kisah tentang keberanian Syaikh Al-Badri adalah ketika beliau di atas mimbar mengkritisi Presiden Irak, 'Abdussalam 'Arif. Padahal Sang Presiden ada di dekatnya. Beliau memborbardirnya dengan kalimat yang masyur, "Wahai 'Abdussalam, terapkanlah Islam. Jika engkau mendekati Islam sejengkal, maka kami akan mendekatimu sehasta. Wahai Abdussalam, nasionalisme tidak cocok untuk kita. Persatuan Islam adalah benteng kita". Setelah kejadian itu aktifitas dakwah beliau dikekang dengan memindahkan beliau ke Masjid Al-Khulafa' yang sudah dua tahun ditutup (1964-1966).


Tak hanya itu Syaikh 'Abdul 'Azis Al-Badri senantiasa menyampaikan kritik dan nasihatnya pada penguasa. Beliau berharap agar penguasa kembali kepada manhaj Islam. Bahkan khutbah beliau di mimbar selalu diawali dengan, "Aku berlindung kepada Allah dari keburukan-keburukan diri kami dan kejahatan-kejahatan penguasa kami." Tentu saja tindakan Syaikh tidak bisa diterima oleh penguasa. Maka Syaikh seringkali menghadapi penangkapan dan penyiksaan. Buku-buku dan kaset rekaman khutbah beliau disita dan peredarannya dilarang.


Salah seorang saksi di penjara mengatakan, "Saya belum pernah melihat seseorang dalam hidup saya dengan keberaniannya yang luar biasa di dalam tahanan. Beliau disiksa dan hilang kesadaran. Setelah sadar, beliau disiksa lagi. Dan itu terjadi berulang-ulang. Sementara beliau terus menyebut asma Allah, membaca Alquran dan doa-doa mustajab. Setelah itu beliau tak sadar lagi." Para tahanan meminta beliau melunak dan diam. Tapi Syaikh Al Badri tidak mau melakukan hal itu. Beliau tidak mau memberi dukungan pada kezaliman penguasa.


Sesungguhnya atas Syaikh telah diputuskan hukuman mati sejak awal pergerakannya. Syaikh bersama para pengemban dakwah yang istiqomah yang terus menyingkap makar kejahatan penguasa. Akan tetapi pada hakikatnya sanksi hukuman apapun, sekalipun itu hukuman mati tidak akan terlaksana. Bahkan mustahil. Sebelum datangnya ajal yang ditetapkan Allah Subhaanahu Wa Ta'ala. Syaikh Al Badri memilih syahid dan memohon kesyahidan. Allah pun memenuhi permintaan beliau dan memuliakan dengan syahid di jalan Allah.


Allah SWT berfirman: "Dan agar sebagian kamu dijadikanNya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 140).

Demikianlah ulama dikenang bukan semata karena ilmunya, tapi juga karena sikap dan pendiriannya. Wallahu 'alam


Sumber tulisan: buku berjudul 'Biografi Abdul Aziz Al-Badri, Pejuang Syariah Dan Khilafah Dari Irak.'
Karangan: Muhammad Al-Alusi




You may also like

No comments:

Powered by Blogger.