Jangan Sedih

0 Comments



"Kapan sih keadaan yang nggak enak ini berlalu, ibu?" Tanya si sulung tertunduk sedih.

"In syaa allaah sebentar lagi", kataku menatap dalam ke matanya.

"Sebentar itu kapan?" Dia semakin mendesak. Anak pandai ini memang tak mudah dibohongi. Dia butuh kepastian, satuan waktu, sejam, sehari, atau setahun? Berapa lama?

"Ketika seseorang sedang senang, waktu terasa cepat sekali. Coba aja liat deh. Waktu kalian main rumah-rumahan tadi sore, sebentar atau lama? Sebenta kan?"

"Nah, padahal tadi tuh hampir 3 jam main di teras. Biasanya 3 jam itu waktu yang kita butuhkan untuk sampai ke Stasiun Jatinegara. Coba tanya adik, ke stasiun jauh atau dekat?"

"Jauh. Kan aku biasanya muntah di jalan. Stasiun itu jauhh banget," adiknya mengangguk-angguk memastikan bahwa kata-katanya benar. Rambut ikalnya bergerak-gerak.

"Iya, memang terasa jauh dan lama. Karena adik nggak bisa menikmati perjalanan," kataku sambil memeluk keduanya.

"Loh, berarti tadi kita main di teras itu lama ya?" Wajah mungil si sulung tampak tercengang.

"Iya. Tapi nggak terasa kan? Karena tadi kalian senang. Jadi waktu berlalu tanpa terasa. Tapi ketika seseorang sedih atau sedang sakit, waktu seperti merangkak. Lambat. Rasanya seperti nggak selesai-selesai. Nah, sekarang bagaimana caranya supaya saat-saat yang nggak nyaman ini bisa segera berlalu? Apa yang harus kita lakukan?"

"Kita harus senang-senang. Yeiyyeyeeii.....", anakku yang nomer 2 menjawab sambil berteriak-teriak kegirangan. Merasa berhasil menemukan jawaban jitu.

"Berarti ketemu deh solusinya. Kita harus senang beberapa hari ini. Isi waktu kita dengan hepi. Nggak boleh sedih. Sekolah, senang. Main sama teman-teman, senang juga. Belajar, senang lagi. Gitu ya, ngerti kan? Besoknya coba kita lakukan lagi hal yang sama. Nanti nggak terasa waktu berlalu dan kesedihan pun hilang. Jangan lupa minta pertolongan ke Allah, supaya segera Allah angkat kesedihan kita."


********************


Kehidupan itu seperti roda ya bunda, ada kalanya kita di atas. Ada kalanya di bawah. Ada saat tertentu terasa sesak. Ada saat yang lain bisa tertawa. Hal itu dialami juga oleh para sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka pun pernah dirundung kesedihan. Allah menceritakan keadaan mereka saat kekalahan yang mereka alami dalam perang uhud.

ÙˆَتِÙ„ْÙƒَ الْØ£َÙŠَّامُ Ù†ُدَاوِÙ„ُÙ‡َا بَÙŠْÙ†َ النَّاسِ ÙˆَÙ„ِÙŠَعْÙ„َÙ…َ اللَّÙ‡ُ الَّذِينَ آمَÙ†ُوا ÙˆَÙŠَتَّØ®ِذَ Ù…ِÙ†ْÙƒُÙ…ْ Ø´ُÙ‡َدَاءَ ۗ ÙˆَاللَّÙ‡ُ Ù„َا ÙŠُØ­ِبُّ الظَّالِÙ…ِين

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah ingin memberi bukti kebenaran kepada beriman (dengan orang-orang kafir) dan menjadikan sebagian diantara kalian sebagai syuhada’. Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. Ali Imran: 140).


Hingga akhirnya setelah tahun demi tahun berganti, saat aku ulangi kata-kataku sendiri agar mereka bersabar terhadap kesulitan dan kesedihan yang dipergilirkan. Seraya berseloroh mereka akan berkata, "Woo, hati-hati bun, jangan-jangan kesulitan yang kita alami sekarang, sesungguhnya posisi kita sedang di atas. Berarti nanti, kita bisa mengalami yang lebih sulit lagi." Atau mereka akan balik berkata, "Ih koq baru sekarang sedihnya, kemaren ngapain aja?"


Wallahu 'alam, kita berlindung pada Allah dari segala macam fitnah akhir jaman yang semakin menyeret kita jauh dari Islam. Mereka tahu bahwa mereka tak boleh bersedih. Mengisi dada kita dengan banyak syukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang seringkali luput dari pengamatan kita. Bersyukur lebih baik daripada bersusah hati hingga membiarkan waktu berlalu tanpa aktifitas positif yang bernilai ibadah.


Orang-orang shalih selevel sahabat saja pernah sedih, apalagi kita kan bunda? Ah, rasanya sesuatu banget ketika harus melalui hari yang berat. Jangan bersedih bunda. Dukamu akan terlihat. Anak-anak bisa membaca hatimu. Kasihan mereka jika terlibat dengan jelaga di hatimu. Tetap warnai hari mereka dengan cahaya. Jangan biarkan mereka larut dalam pekatnya nestapamu. Tidak ada yang abadi di dunia yang fana ini. Tidak juga deritamu dan semua masalah yang membelenggu harimu. Tetap istiqomah ya bunda, jangan sedih. Ada Allah. Laa tahzan innallaaha ma'ana.


Cirebon, 27/7/2018



#SarapanKata
#KMObatch14
#KMOIndonesi
#IndonesiaMenulis
#Day4


https://pin.it/ylgk3c63nfowed, ilustrasi



You may also like

No comments:

Powered by Blogger.