Ah, baru saja ditinggal cuci piring, tempat tidur sudah berantakan lagi. Ditinggal ke kamar mandi, eh ruang tamu yang diserbu. Mereka benar-benar nggak capek ya. Sabar bunda. Tarik napas, lalu jangan lupa lepaskan. Percayalah bunda, engkau tidak sendiri. Di luaran sana banyak bunda yang harus kejar-kejaran demi memasukkan satu sendok nasi ke mulut ananda. Sungguh perjuangan yang dahsyat. Membutuhkan pemanasan dan stamina tinggi. Itulah indahnya peran ibu. Anak sehat karena maem disuapi, bunda sehat karena bergerak lari ke sana kemari.


Mendidik anak tidak instan. Begitupun untuk semangkuk mi instan. Sekalipun sudah ada tulisan 'instan' di bungkus kemasannya, toh ada proses memasak dulu sebelum disantap. Mengurusi anak tidak bisa sim salabim, seketika mereka jadi anak shalih shalihah. Membutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh. Niat yang lurus. Dengan terus memperbaiki password. Ada hari tertentu kata kuncinya adalah sabar. Hari lain, istiqomah. Berikutnya, lillah. Terus...seperti itu ya bunda. Upgrade terus dirimu. Perbaiki terus karena Allah melihat usahamu.


Benarkah dilihat Allah? Iya bunda, lelah kita dilihat. Usaha kita dilihat. Allah Maha Melihat dan Maha Menyayangi. Yakinlah bunda, yang kita lakukan akan berbuah manis di kehidupan yang berat nanti. Pada saat matahari sejengkal. Pada saat kita berkumpul di padang mahsyar. Pada saat ketakutan yang luar biasa ketika memberi hujah di hadapan Allah, atas semua tanggung jawab yang Dia amanahkan pada kita.


Menjadi ibu ternyata melelahkan ya. Bukan hanya perlu ilmu tapi juga perlu iman yang kokoh sebagai landasan. Agar pemikiran dan aktifitas yang dibangun di atasnya tidak roboh akibat pondasi yang rapuh. Islam sebagai mua'lajah atau pemecah persoalan, dijadikan sebagai solusi untuk semua masalah umat. Begitu pun ketika kita mendidik dan mengurusi anak-anak. Tidak hanya perlu ilmu, tapi juga iman yang teguh.

Seperti pernah disampaikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَاْلأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan isteri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.” 


Tetap semangat ya bunda. Boleh istirahat sebentar saat lelah. Setelah itu pastikan aktivitas kita lillah lagi. Tak perlu tongkat ajaib, hanya ganti password. Passwordnya apa? Misalnya ' Hari ini kuat besok sabar'. Atau 'Hari ini istirahat sebentar, besok tambah 5 menit'. Nah...gitu. 
Selamat berjuang ya bunda shalihah.

Cirebon, 26/7/2018

#sarapankata
#KMObatch14
#KMOIndonesia
#IndonesiaMenulis
#day3


Ada yang hilang di setiap pagi sejak seminggu yang lalu. Burung serasa berhenti berkicau. Udara terasa sendu. Perempuan bersahaja itu biasa jalan pagi keliling komplek. Dua cucu perempuan kembarnya yang lucu dan cantik, menggandeng tangannya. Biasanya kami lalu bertegur sapa. Obrolan ala ibu-ibu sambil menyelipkan satu atau dua ayat. Saling bertukar kekuatan, berbagi kisah hidup agar tetap lurus di jalan Islam. Namun kemarin ibu sepuh itu telah kembali pada Rab-nya.


Mendadak rumah sebelah terasa sunyi. Aktivitas seperti berhenti. Satu persatu masalah muncul di rumah itu. Ketika peran yang semula diisi oleh seorang ibu, menjadi kosong. Tanpa ibu, alur aktifitas seisi rumah menjadi tak tentu arah. Tak pernah terbayangkan betapa hebat ibu mengatur rumah selama ini. Peran ibu memang sulit digantikan.


Aku jadi ingat kata-kata salah seorang temanku bahwa ibunya laksana matahari. Semua planet berputar mengelilingi matahari. Karena dia merupakan sumber magnet yang besar. Tanpa disadari, seperti itulah peran seorang ibu. Semua anggota keluarga bertumpu pada ibu. Menyiapkan segala kebutuhan, memastikan agar setiap anggota keluarga bisa beraktivitas dengan baik, adalah tugas ibu. Tak terlihat istimewa. Tapi justru di situlah letak keistimewaannya.


Bayangkan jika peran tersebut dijalankan dengan menggunakan Islam sebagai Qiyadah Fikriyah. Islam dijadikan sebagai kepemimpinan berpikir. Maka ibu akan mengelola rumah tangga, mengatur keluarganya dengan selalu memperhatikan perintah dan larangan. Aktivitasnya dikaitkan dengan idrak silah billah, kesadaran bahwa dia berhubungandengan Allah. Itulah ibu yang disebutkan dalam Islam sebagai Rabbatul Baiyt, pengatur rumah tangga. Pengelolaannya berkualitas, sebab menjaga seisi rumah agar tetap berpegang teguh terhadap perintah dan larangan Allah.


Allah SWT berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسٰنَ بِوَالِدَيْهِ ۚ  حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَالِدَيْكَ ۗ  اِلَيَّ الْمَصِيْرُ


"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu." (QS Luqman 31: Ayat 14)


Sungguh tak mudah menjadi ibu. Tidak ada sekolah khusus. Tak ada sertifikat. Yang ada hanya reward dari Allah berupa surga. Walaupun sebagian orang memandang rendah tugas ibu, Allah memberi kemuliaan terhadap peran itu. Hanya kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'ala kita kembali.

Cirebon, 25/7/2018

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch14
#IndonesiaMenulis
#day2


Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib radhiallahu’ahu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

نَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ

“Sesungguhnya Allah berwasiat 3x kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat” (HR. Ibnu Majah, shahih dengan syawahid-nya).


Sosok sederhana yang selalu ada di dalam rumah. Sosok biasa-biasa saja. Tapi justru yang biasa itulah yang membuatnya istimewa. Biasa bangun paling awal. Biasa menyiapkan semua kebutuhan anggota keluarga. Biasa memastikan rumah nyaman laksana surga. Itulah ibu. Tanpa ibu, rumah seperti kehilangan cahaya. Kehilangan kehangatan. Ibu yang membuat hari kita seperti hidup dan berwarna.


Allah berwasiat agar kita berbuat baik pada ibu. Tiga kali Allah mewasiatkan kebaikan untuk ibu, baru setelah itu ayah. Maka perhatikanlah wahai ibu, apa yang sudah kita perbuat untuk kemuliaan itu? Sudah layakkah kita menyandang kemuliaan yang disematkan Allah Subhaanahu Wa Ta'ala terhadap peran kita sebagai seorang ibu.


 Allah Subhaanahu Wa Ta'ala pada QS Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi,

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”


Lihat apa yang Allah sampaikan. Firman Allah Subhaanahu Wa Ta'ala menjadi rujukan hidup kita. Bahwa kemuliaan seorang manusia ada pada ketakwaannya. Begitu pun kemuliaan ibu, ada pada takwa. Baiklah ibu, mulai saat ini juga kita bawa anggota keluarga kita ke sana, ke arah takwa. Kita giring mereka ke sana. Sampaikan juga pada ibu-ibu kita dimanapun mereka berada agar melekatkan takwa dalam diri. Quu anfusakum wa ahliikum naaron.

Cirebon, 24/7/2018


#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch14
#IndonesiaMenulis
#Day1


Once upon a time there was a little frog.  He lived in a little pond.  Near the pond was a tall tree.  The little frog was very happy. Ini kisah 'The Frog and The Thunder'. Kisah-kisah untuk anak-anak, beberapa diawali dengan kata itu, 'once upon a time'. Jika dibacakan dengan intonasi yang indah, mata-mata mungil dengan kaki dan tangan kecil mereka yang bersih setelah dicuci menjelang tidur, dengan segera akan terasa berat. Kemudian terpejam.






Lucu ya. Jadi ingat anak-anak saat mereka kecil. Aku biasa cerita tentang kelinci merah dan kelinci biru. Selalu itu. Kelinci merah dan kelinci biru sebagai pemeran utama ciptaanku. Kenapa dinamakan merah dan yang satunya biru? Karena atribut yang mereka pakai itu. Jadi ketika aku cerita tentang kelinci merah dan kelinci biru, serta merta mereka terbayang kelinci merah dengan baju merah, sepatu merah, tas merah. Kelinci biru dengan yang serba biru.


Tema cerita bisa aku ganti setiap malam. Kadang mereka yang tentukan tema. Malah mereka berlomba tentukan alur cerita. 'Kelincinya pergi sekolah ya bun', kata Danie si sulung. Lalu kemudian adiknya, Dinda menyela, 'Yaaa...kemarin kan sudah ke sekolah, ke rumah nenek aja deh'. Maka imajinasi mereka terbang, dipenuhi dengan kisah anak-anak tersebut. Hingga pada akhirnya mewarnai kepribadian mereka.


Itu baru kisah tentang kelinci. Dongeng sebelum tidur. Bayangkan jika kita sampaikan kisah para sahabat. Kisah Rasul. Kisah kegemilangan Islam. Tentu warna Islam memenuhi benak mereka. Bukan sekulerisme seperti yang ada sekarang. Menghasilkan generasi bingung tanpa identitas Islam.


Terlihat ya betapa bacaan dan kemampuan menyampaikan kata-kata, penting untuk membangun pemikiran. Mempunyai kekuatan sendiri untuk membentuk pemikiran umat. Yang pada akhirnya membentuk pemahaman. Menghasilkan tingkah laku dan kepribadian Islam.


Tulisan dan kata-kata sebagai sarana dakwah. Jika sejak kecil anak-anak muslim mendengar bacaan tentang kemuliaan Islam. Serta dalam keseharian mereka yang didengar adalah kalimat thayibah yang datangnya dari syariat. Maka mewujudkan kebangkitan bagi umat tidaklah sulit.


Menulislah, kembalikan anak-anak kaum muslim ke dalam Islam. Isi kepala dan hati mereka dengan pemikiran Islam. Sehingga jika telah terbentuk kepribadian Islam, maka setiap kali mereka menghadapi masalah, hanya Islam yang mereka jadikan solusi. Pun ketika mereka melihat fakta. Mendengar berita tentang kaum muslim di belahan dunia yang jauh, yang dihujani bom dan mesiu sepanjang waktu. Mereka akan berpikir untuk segera bergerak menuntaskan persoalan itu juga dengan Islam.


Sampaikan dengan lisan dan tulisan tentang keindahan Islam. Sampaikan bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Once upon a time, there was a beautiful country, Daulah Islamiyah. Conquered more than half part of the world, We lived together, moslem and non moslem. And there was not sad and difficulty under Islamic Government. We lived together happily ever and after.





Pagi itu, 26 Juni 1969 berita kematian Syaikh dengan cepat menyebar, bersama angin yang berhembus di Baghdad. Bagaimana tidak, para ikhwah dan keluarga Syaikh selama ini bertanya-tanya dimana keberadaan Syaikh. Akhirnya  terjawab saat Syaikh kembali dengan tubuh terbujur kaku terbaring dalam peti kayu dari Penjara Guantanamo. Petugas melarang membuka peti tersebut, dengan mengatakan bahwa Syaikh sudah dimandikan dan dikafani.


Akan tetapi saudara-saudara seperjuangan Syaikh mengusulkan peti dibuka untuk mendeskripsikan jasad Syaikh terutama di bagian-bagian cedera. Maka ketika peti tersebut dibuka dan kafan Syaikh disingkap, tampak luka mengerikan di sekujur tubuhnya. Darah menutupi telinga kanannya. Janggut Syaikh yang panjang terpotong. Jasad yang terkoyak-koyak akibat siksaan yang luar biasa, jelas terlihat. Jari-jari patah, luka bakar dan pendarahan akibat alat pemotong dan penggigit yang beragam. Tujuh belas hari Syaikh hilang, hingga akhirnya fakta ini menegasikan informasi yang ditandatangani oleh Dokter Shabah Paul dari Rumah Sakit Militer Ar Rasyid bahwa Syaikh meninggal akibat tekanan darah rendah.


********

Syaikh Abdul Aziz Al-Badri lahir di kota Baghdad tahun 1929 M. Seorang ulama pemberani. Pengemban dakwah. Penulis buku dan politisi. Sekalipun tinggal di Irak. Aktifitas Syaikh merambah ke berbagai negeri seperti Syam, Suriah, Yordan, Libanon dan Palestina. Beliau mengingatkan tentang bahaya kesukuan dan ide nasionalisme. Beliau juga kerap kali mengikuti berbagai persoalan umat. Syaikh mengingatkan akan pentingnya persatuan umat.


Pada musim haji, beliau pun berdakwah seperti yang pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Salam. Beliau memahami bahwasanya haji bukan hanya manasik dan masyair saja. Akan tetapi sekumpulan aktifitas politik lain yang sengaja dihilangkan oleh musuh-musuh Islam. Maka Syaikh melakukan pertemuan-pertemuan antar pengemban dakwah, saling bertukar informasi dan menyusun rencana untuk menyamakan gerak dan menentukan tujuan. Beliau mengadakan kegiatan penyadaran melalui khutbah, peringatan dan menjelaskan jalan untuk kebangkitan.


Beliau juga menolak semua kondisi tidak syar'i yang dipaksakan di negeri-negeri muslim. Menyerang kediktatoran politik, kezaliman sosial dan ketidakadilan ekonomi. Beliau menentang penguasa yang hidup mewah serta tidak mengurusi rakyat dengan baik. Membuat rakyat menjadi miskin dan hidup sempit. Syaikh pun hidup serba kekurangan. Akan tetapi iming-iming harta dan kedudukan dari penguasa tidak melunturkan semangat untuk terus memperjuangkan Islam.


Di antara kisah tentang keberanian Syaikh Al-Badri adalah ketika beliau di atas mimbar mengkritisi Presiden Irak, 'Abdussalam 'Arif. Padahal Sang Presiden ada di dekatnya. Beliau memborbardirnya dengan kalimat yang masyur, "Wahai 'Abdussalam, terapkanlah Islam. Jika engkau mendekati Islam sejengkal, maka kami akan mendekatimu sehasta. Wahai Abdussalam, nasionalisme tidak cocok untuk kita. Persatuan Islam adalah benteng kita". Setelah kejadian itu aktifitas dakwah beliau dikekang dengan memindahkan beliau ke Masjid Al-Khulafa' yang sudah dua tahun ditutup (1964-1966).


Tak hanya itu Syaikh 'Abdul 'Azis Al-Badri senantiasa menyampaikan kritik dan nasihatnya pada penguasa. Beliau berharap agar penguasa kembali kepada manhaj Islam. Bahkan khutbah beliau di mimbar selalu diawali dengan, "Aku berlindung kepada Allah dari keburukan-keburukan diri kami dan kejahatan-kejahatan penguasa kami." Tentu saja tindakan Syaikh tidak bisa diterima oleh penguasa. Maka Syaikh seringkali menghadapi penangkapan dan penyiksaan. Buku-buku dan kaset rekaman khutbah beliau disita dan peredarannya dilarang.


Salah seorang saksi di penjara mengatakan, "Saya belum pernah melihat seseorang dalam hidup saya dengan keberaniannya yang luar biasa di dalam tahanan. Beliau disiksa dan hilang kesadaran. Setelah sadar, beliau disiksa lagi. Dan itu terjadi berulang-ulang. Sementara beliau terus menyebut asma Allah, membaca Alquran dan doa-doa mustajab. Setelah itu beliau tak sadar lagi." Para tahanan meminta beliau melunak dan diam. Tapi Syaikh Al Badri tidak mau melakukan hal itu. Beliau tidak mau memberi dukungan pada kezaliman penguasa.


Sesungguhnya atas Syaikh telah diputuskan hukuman mati sejak awal pergerakannya. Syaikh bersama para pengemban dakwah yang istiqomah yang terus menyingkap makar kejahatan penguasa. Akan tetapi pada hakikatnya sanksi hukuman apapun, sekalipun itu hukuman mati tidak akan terlaksana. Bahkan mustahil. Sebelum datangnya ajal yang ditetapkan Allah Subhaanahu Wa Ta'ala. Syaikh Al Badri memilih syahid dan memohon kesyahidan. Allah pun memenuhi permintaan beliau dan memuliakan dengan syahid di jalan Allah.


Allah SWT berfirman: "Dan agar sebagian kamu dijadikanNya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 140).

Demikianlah ulama dikenang bukan semata karena ilmunya, tapi juga karena sikap dan pendiriannya. Wallahu 'alam


Sumber tulisan: buku berjudul 'Biografi Abdul Aziz Al-Badri, Pejuang Syariah Dan Khilafah Dari Irak.'
Karangan: Muhammad Al-Alusi




Itu kata-kata yang biasa diucapkan anakku, aku punya 'sesuatu' buat ibu. Lalu aku akan terkejut, kehabisan kata-kata dan harap-harap cemas, 'sesuatu' gerangan apakah yang dia bawa buatku.  Si bungsu ini lucu selalu senang memberi kejutan. Pulang sekolah selalu ada saja yang dia bawa. Dan itu untuk aku, ibunya.


Dengan wajah yang masih berkeringat. Rambut yang berantakan. Dia turun dari mobil jemputan sekolah TKnya. Sembunyikan tangan di belakang punggungnya. Mencoba untuk rahasia. Kemudian tak lama dia ulurkan tangannya padaku. Gantungan kunci terbuat dari pita berwarna biru putih berbentuk. Lecek. Tapi indah di mataku.


Sangat menyenangkan mengenang kejadian itu, 12 tahun lalu. Tatkala waktu berlari begitu cepat, yang tersisa hanya kenangan saat anak-anak masih kecil-kecil. Kenangan bersama kelucuan mereka. Karakter masing-masing yang unik. Tapi di situlah peran kita. Menjaga karakter mereka yang unik itu agar tetap terbimbing Islam.


Sambil aku mandikan kemudian ganti dengan baju rumah yang bersih, dengan bersemangat dia bercerita tentang gantungan kunci itu. Dia bilang selama ini sisihkan uang jajan untuk membelinya di depan sekolah. Tak percaya aku anak berusia 5 tahun ini bisa mengerti kebutuhanku. Rupanya dia memperhatikan ketika aku berbicara dengan bapak dan kakak-kakaknya bahwa aku perlu gantungan kunci. Untuk membedakan kunci satu dengan lainnya.


Akhirnya kebiasaan memberi kejutan untuk aku berlanjut terus dari waktu ke waktu. Sehingga pernah satu kali sepulangnya dari sekolah, "Aku punya sesuatu buat ibu". Masih dengan kondisi yang tak jauh berbeda dengan yang pertama, wajah yang berkeringat, pakaian lusuh dan berantakan. Dia keluarkan 'sesuatu' dari saku celana seragam merahnya. Dua bungkus bakso campur mi dan bihun serta saos, kecap dan lainnya. 


Bakso itu tampak tak sedap dipandang, tak mengundang selera. Tapi perhatiannya yang luar biasa yang membuatku terharu. Tak terbayang 2 bungkus plastik bakso yang panas ada di dalam sakunya sepanjang perjalan dari sekolah ke rumah. "Wah, enak banget, koq tau sih ibu pengen bakso. Kita makan sama-sama ya". Rambut ikalnya bergerak-gerak ketika dia mengangguk senang.


Anak laki-lakiku ini berbeda dengan  kedua kakaknya. Dia senang memberi kejutan buat aku. Dia selalu punya 'sesuatu' buat ibu. Dan setiap kali itu terjadi, aku selalu pasang wajah terkejut, dengan senyum 3 jari dan wajah sumringah. Ekspresi aku yang seperti itu yang membuatnya senang.


Akan tetapi prosesi memberi kejutan ini kadang tak berjalan sempurna. Pernah satu hari dengan mata berkaca-kaca dia memberiku 2 bungkus es kelapa muda berselimutkan pasir dan tanah.Es kelapa yang semula menjadi 'sesuatu' buat ibu, rupanya jatuh bersamaan dengan sepedanya. Tapi seperti biasa, aku kembali tampil dengan setting wajah terkejut dan bahagia. Lalu menyelesaikan kesedihannya dengan mengajaknya minum es kelapa bersama, "Enggak apa-apa, kan cuma plastik luarnya yang kotor. Es kelapanya masih aman."


Anak-anak adalah titipan Allah. Kita hanya dititipi sekejap saja. Tak lama. Mereka terus tumbuh besar berpacu dengan waktu. Ada kalanya kita lelah mendengar rewelnya anak-anak. Merasa tidak bebas karena harus membawa mereka di semua aktifitas kita. Tapi itu hanya sebentar. Mereka terus tumbuh meninggalkan masa lalu. Meninggalkan semua kenangan saat mereka masih kecil.


Siang tadi, dia tiba-tiba muncul di kamarku. Anakku datang dari Jakarta. Mataku masih setengah terpejam dengan kesadaran yang juga belum utuh, melihat senyumnya, "Aku bawa sesuatu buat ibu". Dia ulurkan i dus brownies kukus. Seperti biasa, aku terkejut dan bahagia. Tapi kali ini bukan terkejut dan bahagia setingan. Ini sungguhan. Tanpa terasa mataku basah.


Cirebon, 9Juli 2018
#kelasfeature
#ayobercerita

(In Memoriam yang kami kasihi, Ayahanda Hari Moekti)

Aku ingat waktu pertama kali kita bertemu, wahai ayahanda. Tepat 10 tahun yang lalu. Ketika engkau datang ke kota kami, Cirebon, memberi tausiyah. Memberi nasihat untuk banyak orang. Aku adalah salah satu yang tersentuh nasihatmu. Tersentuh dakwahmu. Di situlah kita bertemu.


Kita yang sama-sama berada di dunia dakwah. Belajar di sekolah yang sama, Hizbut Tahrir. Engkau kakak kelasku, karena kau belajar lebih dulu daripada aku. Kitab yang kau pelajari sudah lebih banyak dibandingkan aku. Aku pelajar baru. Belajar kitab awal 'Nizhomul Islam'.


Aku ingat saat itu kau katakan, "Ketika kita mengkaji di Hizbut Tahrir, mempelajari 4 kitab pertama. Maka tiba-tiba dada kita terasa penuh sesak oleh ilmu". Dengan kata-katamu yang tegas. Serta senyum yang tak pernah lepas dari wajahmu. Aku tercenung mendengar itu. Caramu menyampaikan seolah ingin membuatku yakin.


Tapi ajaibnya kata-katamu itu aku bawa pulang. Aku berpikir lama sekali. Bahkan aku ingat itu sampai sekarang. Di antara semua persoalan yang mengisi ruang-ruang di kepalaku. Nasihatmu laksana cahaya, tak pernah padam.


Ya Allah, Zat Yang Maha Menguasai Ilmu. Hatiku selalu bergetar mengingat itu. Usiaku 40 tahun waktu itu. Mengkaji Islam dengan kemampuan bahasa arab yang terbata-bata dan ala kadarnya. Aku diserang gamang tingkat tinggi apakah akan terus belajar di sini, atau berhenti. Ragu bahwa orang sepertiku memiliki kontribusi terhadap kebangkitan Islam.


Sungguh tepat hadirmu waktu itu,wahai ayahanda. Allah menuntunmu untuk menemui aku yang lemah. Mudah putus asa dalam menuntut ilmu. Nasihatmu menguatkanku. Menyejukkanku. Laksana segelas air segar di tengah dahaga.


Dan ternyata apa yang kau katakan itu benar, ayahanda. Selesai 1 kitab, lanjut ke kitab berikutnya. Akhirnya tanpa terasa ingin mempelajari semua. Rindu untuk menguasai ilmu. Malah akhirnya aku takut jika seandainya umurku habis dan tak sempat mempelajari banyak hal. Tentang Sistem Ekonomi Islam, Sistem Pergaulan Islam, Sistem persanksian dan yang lainnya.


Benar ayahanda, dadaku penuh sesak oleh ilmu. Baru 4 kitab dasar tapi telah tergambar betapa indahnya Islam. Betapa luar biasa perjuangan Rasulullah. Betapa sayang Allah terhadap hambaNya. Dan betapa berat kondisi umat jika satu persatu pejuangnya mudah putus asa seperti aku.


Engkau mengajarkan keteguhan hati. Sungguh-sungguh menegakkan yang hak. Aku menaruh hormat padamu. Kisah hijrahmu, adalah 1 banding 1000. Sedikit orang yang mampu sepertimu. Tapi engkau yang 1, menjadi contoh bagi yang lain. Engkau diikuti 999 yang lain.


Dalam salah satu haditsnya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya di sekeliling ‘Arsy terdapat beberapa mimbar yang terbuat dari cahaya. Di atas mimbar itu terdapat sebuah kaum yang pakaian mereka terbuat dari cahaya dan wajah mereka bersinar. Mereka itu bukan para nabi dan juga bukan para syuhada’, para nabi dan para syuhada’ menginginkan kedudukan seperti mereka.”
Lalu Abu Hurairah berkata, “Wahai Rasulullah, sebutkan sifat mereka kepada kami.” Lalu Rasulullah bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling cinta karena Allah, selalu duduk bersama (membahas perihal agama) karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah.” (HR An-Nasa’i).


Lihatlah ayahanda, indahnya mimbar-mimbar cahaya yang digambarkan Rasulullah. Rasul tidak mungkin berdusta. Kata-katanya selalu benar. Kabar gembira bagi orang-orang beriman. Pulanglah ayahanda, pergilah dengan tenang. Kami melepasmu dengan seluruh cinta.


Kelak kami akan menyusulmu. Satu persatu pejuang syariah dan khilafah in syaa allaah akan kembali kepada Rab Sang Pencipta, Penguasa Semesta Alam. Bersaksi bahwa kita dulu berjuang mengajak umat untuk menerapkan syariat, meninggikan kalimat Allah.




Someday, somewhere, jika Allah Subhaanahu Wa Ta'ala ijinkan, kita akan bersama-sama berada di mimbar cahaya yang indah itu aamiin.

Lulu Nugroho (muslimah revowriter)

Ilustrasi gambar. Koleksi foto Ustaz Arifin Ilham
Powered by Blogger.