Bicara Dengan Ilmu

0 Comments

“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim).

Anak kecil ini tidur dengan mata basah. Dia minta aku menyanyikan lagu sebelum tidur. Tapi aku nggak ngerti lagu apa yang dia minta. Dia hanya bilang ,"Bu abu abuuu....". Dengan mata kecilnya yang penuh harap, mulut mungilnya hanya mengeluarkan kata itu berkali-kali.
"Kasih ibu?" Tanyaku. Dia menggeleng.
"Dua mata saya?" Dia menggeleng lagi.
"Satu-satu aku sayang ibu?" Dia terus menggeleng dengan wajah mulai kecewa.
"Topi saya bundar?" Wajahnya semakin kecewa.
"Ibu guru kami? Bukan juga ya. Apa ya?" Matanya semakin sedih. Dia mencoba menyanyi dengan irama yang tak tepat, "Bu abu abuuu...".

Clue yang tak jelas, karena kosa kata yang terbatas. Tidak mampu menggali ingatanku. Ya Allah, sepertinya aku akan mengecewakan little princessku ini. Setelah beberapa judul yang aku tawarkan disambut dengan gelengan kepala. Akhirnya diapun tertidur bukan dengan lagu yang dia minta. Lagu lain. Aku benar-benar membuatnya kecewa.

Hingga esok paginya aku ajak dia bermain, dan melakukan aktifitas sehari-hari sambil bernyanyi. Menyanyi semua lagu yang biasa kami nyanyikan bersama. Seraya berusaha mencari lagu apa yang hilang semalam, tak kunjung ketemu. Dan akhirnya, Allah menunjukkan kasih sayangNya. Dia kembalikan ingatanku. Dari sekian banyak lagu yang kami nyanyikan pagi itu, muncul lagu yang dia cari.

Dari matanya yang mungil terlihat binar-binar bahagia. Senyumnya mengembang. Dia mengangguk-angguk lucu dan menari melenggak lenggok. Kami menyanyi bersama. Dia bersenandung masih dengan nada yang tak tentu, "Bu abu abuu...". Kata yang sama seperti yang dia ucapkan semalam. Tapi kali ini aku tau lagu apa yang dia inginkan. Aku tersenyum ke arahnya.

Ternyata lagu yang dicarinya adalah 'Ambilkan bulan, bu'. Entah berapa bulan usianya saat itu. Baru satu dua kata yang aku mengerti. Bicaranya masih belum jelas.

Komunikasi itu perlu ya bunda. Antara anak-anak dengan bunda. Antara bunda dengan suami, bunda dengan teman-teman, dan yang lainnya. Agar kita bisa mentransfer kasih sayang. Agar tidak terjadi salah paham yang memunculkan friksi, pertikaian. Bil hikmah wal mauizhotul hasanah, dengan bahasa dan penyampaian yang baik. Hingga akhirnya pesan kita bisa sampai. Jika komunikasi tidak ditegakkan, akan muncul asumsi-asumsi. Berpeluang terbentuk benang ruwet di kepala. Dan yang lebih bahaya adalah muncul perpecahan antara sesama muslim.

Berbicara dengan anak-anak pun seperti itu bunda. Sedikit demi sedikit sampaikan Islam. Sejak mereka kecil dengan bahasa yang sederhana. Maka lambat laun akan terbentuk kepribadian Islam dalam diri anak-anak. Sama halnya ketika kita bicara dengan umat. Sampaikan Islam melalui interaksi kita dengan mereka. Atas izin Allah akan terbentuk pemikiran Islam. Jika dilakukan menyeluruh di tengah umat secara bersamaan, terbentuklah pemikiran umum.

Itulah sebenarnya hakikat dakwah kita terhadap Islam. Dakwah disampaikan melalui komunikasi. Apakah dengan komunikasi secara verbal atau tulisan. Dilakukan terus menerus ya bunda. Semoga akan segera mengantarkan umat pada kebangkitan.

Yuk kita berlatih terus bunda, perbaiki komunikasi kita. Kontennya, isi dengan kalimat yang baik yang datangnya dari Islam. Perbaiki juga cara menyampaikannya. Niatkan Lillah karena Allah agar bernilai ibadah. qoulum ma'ruufuw wa maghfirotun khoirum min shodaqotiy yatba'uhaaa azaa, wallohu ghoniyyun haliim

Cirebon, 10/8/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#Indonesiamenulis
#day18

Ilustrasi.     https://pin.it/nosqneux4q3rgh





You may also like

No comments:

Powered by Blogger.