وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
سورة الروم )46)
Yang artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya. Mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS ar Rum: 46).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencaci angin karena angin itu diperintah”

doa saat angin bertiup:
اللهم إني أسألك خيرها و خير ما فيها و خير ما أرسلت به، و أعوذ بك من شرها و شر ما فيها و شر ما أرسلت به. رواه نسلم

Dalam sahih Muslim, ketika angin bertiup kencang, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,
 “Ya Allah sesungguhnya aku meminta kebaikan angin ini dan kebaikan yang dibawanya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini dan keburukan yang dibawanya”
atau  doa:
اللهم إني أسألك خيرها و أعوذ بك من شرها.
رواه أبو داود


Dua hari ini Cirebon berdebu. Angin yang kencang bertiup sepanjang waktu menerbangkan debu. Apa yang harus kita lakukan ketika datang angin seperti ini, wahai.bunda? Lakukan aktifitas seperti biasa. Pakaian kita dan anak-anak sesuaikan dengan kondisi alam. Upayakan agar rumah dan keluarga kita terlindung dari debu. Tak perlu mencela angin atau kecewa terhadap debu. Allah yang menguasai alam semesta. Kita hanya diminta melakukan antisipasi sesuai dengan potensi akal yang kita miliki. Jangan lupa bunda, antisipasi kita itu pun dinilai Allah.

Padahal bunda, jika dilihat dari atas nun jauh di sana, manusia pun tak ubahnya bagaikan debu. Kecil, tak berarti. Tapi mampu berbuat kerusakan. Mampu membunuh kaum muslim di Palestina, di Suriah. Mampu berbuat onar dengan LGBTnya. Mampu membuat aturan zalim yang menyengsarakan rakyat. Mampu menyakiti ulama dan pejuang-pejuang Islam.

Sungguh sebutir debu yang hina. Tapi apakah akan dibiarkan 'benda' sekecil debu ini tanpa hisab? Tidak wahai bunda, tidak ada yang luput dari hitungan Allah. Sungguh Ia Maha Teliti. Semua perbuatan kita dihisab. Buruknya dihisab. Yang baik pun dihisab. Maka buatlah penghisaban yang baik, wahai bunda. Isi hari-harimu dengan aktifitas yang bernilai ibadah di hadapan Allah.

Jadilah debu yang berkualitas di hadapan Allah. Yang memiliki hujah. Mampu mengemban amanah kebangkitan di bahumu. Pilihan ada padamu bunda, mau jadi debu hina yang kelak mendapat azab Allah? Atau debu mulia yang mampu mengguncang dunia. Barakallahu fii kunna.

Cirebon, 3/7/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#Indonesiamenulis
#day11

Ilustrasi. https://pin.it/umllvuwrlrcy3a



Ingatlah bahwa Rasul kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, shahih)

Kalau hukumnya wajib, berarti ada pahalanya bun. Belajar yuk bun. Banyak banget hal baru yang harus kita pelajari. Banyak hal yang jika dikaitkan dengan Islam semakin ingin kita mempelajarinya. Mulai dari politik, ekonomi, parenting, remaja, pendidikan dan lainnya. Jika kita pelajari, rasanya kita semakin haus akan ilmu. Ayo belajar terus bunda, agar tajam analisa kita.  Seseorang yang berilmu, membuatnya semakin dekat pada Allah ya bunda. Semakin dekat mengenal Islam. Bukan menjauh dan jadi sombong.

Jangan lupa pelajari juga pelajaran sekolah anak-anak. Agar ketika mereka menemukan kesulitan belajar, mereka tidak jauh-jauh bertanya. Mempelajari teknologi juga tak kalah pentingnya. Berita sekarang mengalir deras di medsos. Jika dulu orang beli koran atau liat televisi untuk mendapatkan berita terbaru. Kini berita mudah sekali diakses melalui internet. Mengakses berita membuat kita selalu bisa mengamati perubahan yang terjadi masyarakat.

Dan yang tak kalah pentingnya, mempelajari Islam. Menuntut ilmu agama adalah jalan mudah menuju surga. Semua orang pasti ingin ke sana. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menempuh jalan menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Di sela aktifitas kita, luangkan waktu ya untuk belajar. Kapan saja, dimana saja pelajari fakta. Semua yang kita pelajari kaitkan dengan Islam. Ada ayat-ayat Allah bertebaran di alam raya. Jika Allah ijinkan kelak kita akan dikumpulkan di mimbar cahaya, bersama orang-orang shalih lainnya. Berkumpul dalam majlis ilmu.


Cirebon, 31/7/2018
#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#Indonesiamenulis
#day8




Pagi ini terasa lengang, sepi. Dinding putih ukuran 3x3 ini membatasi pandanganku. Hari serasa enggan bergerak. Semua aktifitas berhenti. Hape dijauhkan. Janji-janji dipending. Istirahat dulu sejenak bunda. Biarkan saja waktu melaju di sekitarmu, tapi berikan istirahat untuk dirimu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.
 (HR. Muslim).

Islam begitu indahnya. Bahkan dalam sakit pun mengandung sebuah kebaikan. Sakit menggugurkan dosa. Bayangkan jika dosa-dosa kita yang segunung banyaknya harus kita bawa saat 'pulang' kepada Allah. Ah, malu bunda. Dosa yang segunung itu akan memenuhi ruangan. Bukankah dosa semestinya kita sembunyikan? Malu jika terlihat? Tapi jika menjulang seperti itu, tak akan sanggup kita melakukannya. Berarti tidak ada pilihan lain kecuali istighfar, mohon ampun pada Allah agar Dia mau menghapus dosa-dosa kita.

Istirahatlah bunda, iringi hela napasmu dengan istighfar. Semoga sakit bisa menjadi kafarat dosa-dosamu. Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim).

Sakit adalah bentuk kasih sayang Allah pada kita. Tenangkan dirimu bunda, bersabarlah. Allah tidak pernah melakukan hal yang sia-sia. Jika sakitmu membuat repot, berdoalah minta diringankan Allah. Bisa jadi ujian sakit yang menimpamu, sesungguhnya adalah ujian juga bagi orang-orang di dekatmu. Tetap istiqomah dalam Islam.

Ibnul Qoyyim rahimahullah menasehati kita, “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah yang dapat kita gali. Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)

Jangan lupa bunda, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini. Amin. Syafakillah bunda, laa ba'sa thohuurun

Cirebon, 1/8/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#IndonesiaMenulis
#day9

Ilustrasi. https://pin.it/kvik4hncebbldc


Selamat pagi bunda, apa kabar hari ini? Sudah siap mengguncang dunia?

Jangan lupa muhasabah terus ya bunda. Karena gerakan kebangkitan, gerakan mengguncang dunia akan sulit kita lakukan jika kita masih bermaksiat kepada Allah. Obyek dakwah yang utama adalah diri kita sendiri. Menyampaikan Islam, menyampaikan kebenaran diawali dengan perubahan diri.

Pagi ini kita lihat anak-anak ya bunda. Sudahkah kita berkata lembut pada mereka. Apakah bunda masih suka marah-marah? Apakah bunda masih mendidik anak-anak dengan kata-kata yang keras? Ah, hati-hati bunda. Mereka peniru yang ulung. Tanpa sadar kita membuat mereka merekam perilaku buruk kita.

Peribahasa mengatakan “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Atau  “Like father, like son”. Sama juga dengan, "al-Waladu shuurotun 'an abiihi". Hal ini mengindikasikan bahwasanya orang tua adalah uswatun hasanah bagi anak-anak. Orang tua adalah hal yang terdekat dengan anak-anak. Sehingga yang lebih dulu diserap oleh mereka adalah sikap orang tua. Ibu bahkan lebih dekat lagi. Itu sebabnya dalam Islam ibu sebagai al madraasatul uula. Sekolah yang pertama, yang mestinya mengajarkan hal baik bagi anak-anak.

Jika ibu sering marah-marah, dan berkata kasar terhadap anak-anak, maka mereka akan menganggap bahwa cara itulah yang paling tepat untuk menyampaikan sesuatu. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah akibat bentakan atau perkataan yang kasar dapat membunuh lebih dari 1 milyar sel otak mereka. Jika diiringi dengan pukulan dan cubitan maka akan membunuh lebih dari bermilyar-milyar sel otak saat itu juga. Hal ini berpengaruh pada kepribadian mereka. Nau'dzubillaahi min dzaalika. Kita berlindung dari yang demikian. Berlindung dari kebodohan kita. Berlindung dari kurangnya kesabaran kita dalam mendidik anak.

Allah Ta’ala berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Israa’ : 23-24).

Mulai dari diri kita sendiri dulu bunda. Berkata halus, mendidik anak-anak dengan kasih sayang. Sampaikan dengan lemah lembut agar mereka mengerti ucapanmu. Jika engkau telah lakukan itu, maka mereka kelak akan menjagamu, menjaga hatimu. Tidak berwajah masam, apalagi berkata 'ah'. Tidak dengan membiarkanmu sendiri dan sedih saat tenagamu sudah mulai lemah dalam usiamu yang menjelang senja. Wa qul lahum fii anfusihin qaulam baliigho.

Cirebon, 30/7/2018

#SarapanKata
#KMObatch14
#KMOIndonesia
#IndonesiaMenulis
#Day7

Ilustrasi .  https://pin.it/xbkoo4vcszs2mr


Bunda tau serial anak-anak Winnie the pooh kan? Winnie punya sahabat, ada Piglet, Eeyore, Kanga, Roo, Rabbit, Robin dan Tiger. Winnie bahkan punya beberapa quotes yang menarik. Melukiskan betapa sayang dia terhadap sahabat-sahabatnya. Ada satu yang aku ingat, ketika Winnie berkata, "If there ever comes a day, when we can't be together. Keep me in your heart. I'll stay there forever." So sweet ya bun.


Ada yang lebih sweet lagi bunda, yaitu ketika Ibnu Jauzi rahimahullah berkata kepada sahabat-sahabatnya,

إن لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألوا عني وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك
Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Rabb kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.” Kemudian beliau menangis.


Ibnu Jauzi hendak menyampaikan pada kita tentang bentuk persahabatan yang jauh lebih indah. Lebih istimewa. Yaitu persahabatan yang saling memberi syafaat ketika di akhirat kelak. Persahabatan yang diikat oleh akidah.
Dikatakan Rasulullah saw. dalam salah satu hadisnya: 'Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian melihat siapakah yang jadi teman dekatnya.' (HR Abu Daud dan Tirmidzi).


Rasul saw. memberi panduan bunda, agar kita tidak sembarangan memilih sahabat. Karena sahabat surga pasti akan terus mendorong agar keimanan kita kokoh. Sebaliknya sahabat yang buruk akan abai terhadap perkara iman. Akidah terbukti mampu merekatkan hati-hati kaum muslim. Laksana power glue, in syaa allaah tak akan lepas bunda. Hati kita akan nempel terus. Terhubung terus.


Bunda punya teman? Punya sahabat? Carilah sahabat surgamu, bunda. Bukan hanya anak-anak yang perlu sahabat, bunda juga perlu. Bunda perlu sahabat yang selalu mengingatkan pada kebaikan. Mengoreksi ketika kita mulai futur. Menarik kita lagi saat kita asik dengan perkara-perkara mubah. Sahabat yang mengajak untuk taat. Sahabat yang dengannya surga terasa dekat. Sahabat seperti itulah kelak yang akan menarik tangan kita agar bersama-sama masuk ke dalam surga.


Sahabat untuk kehidupan yang baik hingga ke surga. Seperti sahabat Rasulullah yaitu Abu Bakar Ash Sidiq radhiallaahu anhu dan Umar bin Khathab radhiallaahu anhu ketika mereka berdua duduk di batu besar. Rasul lelah dan tertidur di balik batu setelah bersama-sama kaum muslim di Madinah menggali parit untuk persiapan Perang Khandaq. Maka kedua sahabat terkasih beliau menjaga Rasulullah agar tidak terkena cahaya matahari. Menutupi Rasul dengan bayang-bayang tubuh mereka. Serta mencegah kaum muslim yang saat itu lalu lalang bekerja, agar Rasulullah bisa tidur dengan tenang tanpa terganggu.


Begitu pun ketika Abu Bakar radhiallaahu anhu, membiarkan jari kakinya digigit binatang berbisa. Saat beliau memangku kepala Rasulullah yang tertidur di gua. Sembunyi dari kejaran orang-orang Quraisy Mekah. Abu Bakar Ash Shidiq radhiallaahu anhu menahan rasa sakit dan tidak berani bergerak, karena khawatir Rasulullah akan terjaga. Persahabatan yang indah. Bukan hanya taat terhadap Rasulullah. Tapi juga rela mati demi Rasul.


Persahabatan karena akidah. Bukan karena harta atau status kita. Bersahabat dengan orang-orang salih. Keutamaan teman yang salih menurut Umar bin Khathab: "Tidak ada pemberian yang terbaik bagi seorang hamba setelah Islam selain teman yang salih. Jika kalian mendapatkan cinta dari teman kalian, peganglah kuat-kuat." Lalu kata Imam Syafii: "Jika engkau punya teman yang menolongmu dalam taat, genggamlah tangannya, karena mendapatkan teman baik itu sulit sedangkan meninggalkannya mudah." Ana uhibbuki fillah.

Cirebon, 29/7/2018


#KMObatch14
#KMOIndonesia
#Indonesiamenulis
#Day6


Gerhana lagi, bunda. Sungguh indah, melihat ke langit tepat di atas rumah kita. Tampak jelas bulan yang semula terang berwarna kuning keemasan dengan cahayanya yang berpendar-pendar. Lambat laun tertutup sedikit demi sedikit. Menyisakan lingkaran hitam yang gelap. Kemudian terang lagi secara bertahap.


Fenomena alam dulu kita pelajari saat di sekolah. Kemudian hadir, tampak jelas. Manusia banyak mengabadikannya dalam foto-foto saat terjadinya gerhana. Tapi tahukah bunda, gerhana matahari dan bulan bukan hanya tanda-tanda kekuasaan Allah yang biasa, tetapi itu merupakan tanda-tanda Hari Kiamat.


Allah SWT berfirman:

﴿يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ، وَخَسَفَ الْقَمَرُ، وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ، يَقُولُ الْإِنسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ، كَلَّا لَا وَزَرَ، إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ﴾ [سورة القيامة: 6-12]

“Ia berkata, “Bilakah hari kiamat itu?", maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya [mengalami gerhana], ketika matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata, “Ke manakah tempat berlari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.” [QS Al-Qiyamah: 6-12]


Itulah mengapa, saat terjadinya gerhana, sikap yang ditunjukkan Nabi SAW. adalah takut, gemetar, dan bergegas, sambil mengangkat jubahnya, menuju ke rumah Allah. Seolah-olah, langit dan bumi akan digulung, dan kiamat pun tiba. 


Dalam riwayat Bukhari, dari Abu Musa al-Asy’ari, dinyatakan:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ
“Jika kalian melihat hal itu, maka bersegeralah dengan gemetar [penuh rasa takut] untuk mengingat-Nya, berdoa kepada-Nya dan meminta ampun kepada-Nya.” [Hr. Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz IV/184]


******

Tanpa gerhana, seharusnya kita tetap sadar akan kekuasaan Allah. Bahwa Allah mampu melakukan semua hal sulit yang tak terjangkau dengan akal manusia. Allah bukan hanya mampu menjatuhkan meteor. Tapi juga mengaturnya agar tetap berada dalam orbitnya. Bahkan Allah pun mampu mengatur rotasi bumi dengan kecepatan yang terkendali dan teratur. Sehingga tak membuat kepala kita pening. Padahal logikanya kita berdiri di atas benda yang berputar kan bunda?


Begitu pun saat bumi beserta planet-planet mengelilingi matahari. Sekalipun kita di bumi, tapi anehnya tak membuat kita goyang sedikit pun. Bayangkan jika sehari-hari kita melakukan aktifitas seolah di atas roller coaster, pasti sangat melelahkan. Sungguh Allah Maha Kuasa. Hanya Allah yang mampu mengendalikan alam raya beserta isinya dengan sistemNya yang sempurna.


Jika Rasul saja ketakutan saat menghadapi gerhana, berarti reaksi kita pun harusnya seperti itu, bunda. Takut. Karena huru hara kiamat itu memang sangat mengerikan. Terlepas genggaman tangan anak-anak dari ibunya. Dalam sekejap kita tercerai berai dari orang-orang yang kita sayangi. Oleh sebab itu bunda, lindungi anak-anakmu. Lindungi suamimu. Lindungi semua kerabat kita dan seluruh kaum muslim. Tidak hanya melalui doa tapi juga dengan aktifitas amr ma'ruf nahy munkar.


Segera kita bebenah ya bunda. Sampaikan kepada kaum muslim bahwa pemikiran barat menyerang mereka. Tak terasa kita digiring jauh dari Islam. Lihatlah bagaimana pergaulan bebas menyerang generasi muda. Begitupun kepada para bapak, sampaikan agar berhati-hati mencari nafkah. Ekonomi ribawi melibas keimanan kaum muslim. Jaga keluargamu, atau mereka nanti akan jadi bahan bakar neraka. Naudzubillahi min dzalika. Bunda juga ya, sekalipun hanya sekedar angkat jemuran atau buang sampah, tutup auratmu.


Banyak istighfar ya bunda. Lakukan ishlah, perbaikan. Pelajari Islam. Karena itu untuk bekal kita di akhirat kelak. Semoga Allah ampuni semua dosa-dosa kita yang banyak. Dan memberi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri. Menyelamatkan kita dan seluruh kaum muslim dari ketakutan hari kiamat, aamiin.

Cirebon, 28/7/2018




Ilustrasi.   https://pin.it/prgs5xkwtpvddo
#KMObatch14
#KMOIndonesia
#IndonesiaMenulis
#Day5



"Kapan sih keadaan yang nggak enak ini berlalu, ibu?" Tanya si sulung tertunduk sedih.

"In syaa allaah sebentar lagi", kataku menatap dalam ke matanya.

"Sebentar itu kapan?" Dia semakin mendesak. Anak pandai ini memang tak mudah dibohongi. Dia butuh kepastian, satuan waktu, sejam, sehari, atau setahun? Berapa lama?

"Ketika seseorang sedang senang, waktu terasa cepat sekali. Coba aja liat deh. Waktu kalian main rumah-rumahan tadi sore, sebentar atau lama? Sebenta kan?"

"Nah, padahal tadi tuh hampir 3 jam main di teras. Biasanya 3 jam itu waktu yang kita butuhkan untuk sampai ke Stasiun Jatinegara. Coba tanya adik, ke stasiun jauh atau dekat?"

"Jauh. Kan aku biasanya muntah di jalan. Stasiun itu jauhh banget," adiknya mengangguk-angguk memastikan bahwa kata-katanya benar. Rambut ikalnya bergerak-gerak.

"Iya, memang terasa jauh dan lama. Karena adik nggak bisa menikmati perjalanan," kataku sambil memeluk keduanya.

"Loh, berarti tadi kita main di teras itu lama ya?" Wajah mungil si sulung tampak tercengang.

"Iya. Tapi nggak terasa kan? Karena tadi kalian senang. Jadi waktu berlalu tanpa terasa. Tapi ketika seseorang sedih atau sedang sakit, waktu seperti merangkak. Lambat. Rasanya seperti nggak selesai-selesai. Nah, sekarang bagaimana caranya supaya saat-saat yang nggak nyaman ini bisa segera berlalu? Apa yang harus kita lakukan?"

"Kita harus senang-senang. Yeiyyeyeeii.....", anakku yang nomer 2 menjawab sambil berteriak-teriak kegirangan. Merasa berhasil menemukan jawaban jitu.

"Berarti ketemu deh solusinya. Kita harus senang beberapa hari ini. Isi waktu kita dengan hepi. Nggak boleh sedih. Sekolah, senang. Main sama teman-teman, senang juga. Belajar, senang lagi. Gitu ya, ngerti kan? Besoknya coba kita lakukan lagi hal yang sama. Nanti nggak terasa waktu berlalu dan kesedihan pun hilang. Jangan lupa minta pertolongan ke Allah, supaya segera Allah angkat kesedihan kita."


********************


Kehidupan itu seperti roda ya bunda, ada kalanya kita di atas. Ada kalanya di bawah. Ada saat tertentu terasa sesak. Ada saat yang lain bisa tertawa. Hal itu dialami juga oleh para sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka pun pernah dirundung kesedihan. Allah menceritakan keadaan mereka saat kekalahan yang mereka alami dalam perang uhud.

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِين

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah ingin memberi bukti kebenaran kepada beriman (dengan orang-orang kafir) dan menjadikan sebagian diantara kalian sebagai syuhada’. Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. Ali Imran: 140).


Hingga akhirnya setelah tahun demi tahun berganti, saat aku ulangi kata-kataku sendiri agar mereka bersabar terhadap kesulitan dan kesedihan yang dipergilirkan. Seraya berseloroh mereka akan berkata, "Woo, hati-hati bun, jangan-jangan kesulitan yang kita alami sekarang, sesungguhnya posisi kita sedang di atas. Berarti nanti, kita bisa mengalami yang lebih sulit lagi." Atau mereka akan balik berkata, "Ih koq baru sekarang sedihnya, kemaren ngapain aja?"


Wallahu 'alam, kita berlindung pada Allah dari segala macam fitnah akhir jaman yang semakin menyeret kita jauh dari Islam. Mereka tahu bahwa mereka tak boleh bersedih. Mengisi dada kita dengan banyak syukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang seringkali luput dari pengamatan kita. Bersyukur lebih baik daripada bersusah hati hingga membiarkan waktu berlalu tanpa aktifitas positif yang bernilai ibadah.


Orang-orang shalih selevel sahabat saja pernah sedih, apalagi kita kan bunda? Ah, rasanya sesuatu banget ketika harus melalui hari yang berat. Jangan bersedih bunda. Dukamu akan terlihat. Anak-anak bisa membaca hatimu. Kasihan mereka jika terlibat dengan jelaga di hatimu. Tetap warnai hari mereka dengan cahaya. Jangan biarkan mereka larut dalam pekatnya nestapamu. Tidak ada yang abadi di dunia yang fana ini. Tidak juga deritamu dan semua masalah yang membelenggu harimu. Tetap istiqomah ya bunda, jangan sedih. Ada Allah. Laa tahzan innallaaha ma'ana.


Cirebon, 27/7/2018



#SarapanKata
#KMObatch14
#KMOIndonesi
#IndonesiaMenulis
#Day4


https://pin.it/ylgk3c63nfowed, ilustrasi

Powered by Blogger.