“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim).

Anak kecil ini tidur dengan mata basah. Dia minta aku menyanyikan lagu sebelum tidur. Tapi aku nggak ngerti lagu apa yang dia minta. Dia hanya bilang ,"Bu abu abuuu....". Dengan mata kecilnya yang penuh harap, mulut mungilnya hanya mengeluarkan kata itu berkali-kali.
"Kasih ibu?" Tanyaku. Dia menggeleng.
"Dua mata saya?" Dia menggeleng lagi.
"Satu-satu aku sayang ibu?" Dia terus menggeleng dengan wajah mulai kecewa.
"Topi saya bundar?" Wajahnya semakin kecewa.
"Ibu guru kami? Bukan juga ya. Apa ya?" Matanya semakin sedih. Dia mencoba menyanyi dengan irama yang tak tepat, "Bu abu abuuu...".

Clue yang tak jelas, karena kosa kata yang terbatas. Tidak mampu menggali ingatanku. Ya Allah, sepertinya aku akan mengecewakan little princessku ini. Setelah beberapa judul yang aku tawarkan disambut dengan gelengan kepala. Akhirnya diapun tertidur bukan dengan lagu yang dia minta. Lagu lain. Aku benar-benar membuatnya kecewa.

Hingga esok paginya aku ajak dia bermain, dan melakukan aktifitas sehari-hari sambil bernyanyi. Menyanyi semua lagu yang biasa kami nyanyikan bersama. Seraya berusaha mencari lagu apa yang hilang semalam, tak kunjung ketemu. Dan akhirnya, Allah menunjukkan kasih sayangNya. Dia kembalikan ingatanku. Dari sekian banyak lagu yang kami nyanyikan pagi itu, muncul lagu yang dia cari.

Dari matanya yang mungil terlihat binar-binar bahagia. Senyumnya mengembang. Dia mengangguk-angguk lucu dan menari melenggak lenggok. Kami menyanyi bersama. Dia bersenandung masih dengan nada yang tak tentu, "Bu abu abuu...". Kata yang sama seperti yang dia ucapkan semalam. Tapi kali ini aku tau lagu apa yang dia inginkan. Aku tersenyum ke arahnya.

Ternyata lagu yang dicarinya adalah 'Ambilkan bulan, bu'. Entah berapa bulan usianya saat itu. Baru satu dua kata yang aku mengerti. Bicaranya masih belum jelas.

Komunikasi itu perlu ya bunda. Antara anak-anak dengan bunda. Antara bunda dengan suami, bunda dengan teman-teman, dan yang lainnya. Agar kita bisa mentransfer kasih sayang. Agar tidak terjadi salah paham yang memunculkan friksi, pertikaian. Bil hikmah wal mauizhotul hasanah, dengan bahasa dan penyampaian yang baik. Hingga akhirnya pesan kita bisa sampai. Jika komunikasi tidak ditegakkan, akan muncul asumsi-asumsi. Berpeluang terbentuk benang ruwet di kepala. Dan yang lebih bahaya adalah muncul perpecahan antara sesama muslim.

Berbicara dengan anak-anak pun seperti itu bunda. Sedikit demi sedikit sampaikan Islam. Sejak mereka kecil dengan bahasa yang sederhana. Maka lambat laun akan terbentuk kepribadian Islam dalam diri anak-anak. Sama halnya ketika kita bicara dengan umat. Sampaikan Islam melalui interaksi kita dengan mereka. Atas izin Allah akan terbentuk pemikiran Islam. Jika dilakukan menyeluruh di tengah umat secara bersamaan, terbentuklah pemikiran umum.

Itulah sebenarnya hakikat dakwah kita terhadap Islam. Dakwah disampaikan melalui komunikasi. Apakah dengan komunikasi secara verbal atau tulisan. Dilakukan terus menerus ya bunda. Semoga akan segera mengantarkan umat pada kebangkitan.

Yuk kita berlatih terus bunda, perbaiki komunikasi kita. Kontennya, isi dengan kalimat yang baik yang datangnya dari Islam. Perbaiki juga cara menyampaikannya. Niatkan Lillah karena Allah agar bernilai ibadah. qoulum ma'ruufuw wa maghfirotun khoirum min shodaqotiy yatba'uhaaa azaa, wallohu ghoniyyun haliim

Cirebon, 10/8/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#Indonesiamenulis
#day18

Ilustrasi.     https://pin.it/nosqneux4q3rgh






"Abi pulang jam berapa malam ini?"
"In sya allaah jam 8 lebih 15 tiba di rumah. Ada apa shalihah?"
"Ah enggak, tadi umi masakin ayam panggang, sambel dan lalap buat abi".
Percakapan di whattsap. Kode keras. Biasanya suami tahu bahwa itu sinyal agar ia siapkan waktu untuk mendengarkan. Melepaskan sesak di dadaku, setelah seharian bertemu bermacam-macam karakter. Menghadapi berbagai situasi.

Seperti itulah peran seorang suami. Walaupun disebutkan hanya sekali setelah penghormatan tiga kali kita terhadap ibu. Tapi suami pun memainkan peran penting dalam kehidupan sebuah keluarga. Itulah sebabnya namanya pun disebutkan di dalam banyak nash. Anak-anak yang berbakti pada kedua orang tua, akan dijamin surga.

Dalam salah satu hadis Nabi Muhammad SAW diceritakan, ‘Aku bertanya kepada Nabi saw, “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah SWT?" Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Kemudian jihad di jalan Allah.” (HR Bukhari).

Ibu sebagai orang tua tunggal atau ibu dengan suami sebagai pendamping, tugasnya sama. Yaitu mencetak generasi mulia. Beban berat itu diamanahkan Allah pada ibu. Menjadi ummu wa robbatul baiyt, sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Tidak akan mudah terlaksana jika tanpa bantuan suami yang menopang. Ketiadaan peran suami, apakah karena ibu sebagai orang tua tunggal, atau memang pasangan yang tak menguasainya perannya, membuat keluarga sulit membenahi dirinya.

Sebagai seseorang yang bertanggungjawab mencari nafkah dan menjadi pemimpin dalam keluarganya, tugas suami juga tidak mudah. Jika tanpa dibekali dengan ilmu dan keimanan yang kokoh, maka dia tak akan mampu menarik anak-anak dan istrinya. Menjaga mereka agar tetap berada di dalam benteng iman terjaga oleh Islam.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka”. Hadis shahih riwayat al-Bukhari (no. 2278) dan Muslim (no. 1829).

Seorang ayah mendidik dan membimbing keluarga dengan lembut. Maka anak-anak akan mempelajari bagaimana seorang ayah mengatur keluarganya. Bagi anak-anak, ayah adalah role model. Pelajaran yang mahal yang didapat anak-anak di dalam rumah. Mempengaruhi mereka kelak dewasa. Hanya di dalam rumah mereka bisa mempelajari peran itu dengan baik.

Suami sebagai muara dari semua persoalan yang ada di rumah. Keputusan-keputusan yang diambil akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Menjaga anggota keluarga dari makanan yang haram, mengarahkan mereka pada interaksi yang baik, menjaga masuknya pemikiran buruk yang memalingkan anggota keluarga dari akidahnya.

Allah SWT berfirman:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ  نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ  لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)


Saling menguatkan, saling menopang dalam kemuliaan Islam. Seorang istri dapat melakukan tugasnya dengan baik. Memiliki hujah di hadapan Allah karena adanya peran suami sebagai penopangnya. Pendukung perannya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:
«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى»
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluargaku”
1 HR at-Tirmidzi (no. 3895) dan Ibnu Hibban (no. 4177), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani.

Pinjam bahumu abi, malam ini saja. Agar aku besok bisa menghadapi dunia. Laa haula wa laa quwwata illa billah.


Cirebon, 8/8/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#Indonesiamenulis
#day16






الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ * فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ
(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu, karena itu takutlah kamu kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah bagi kami dan Dia lah sebaik-baik pelindung.” (173)

Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah memiliki karunia yang sangat besar. (174). – (Q.S Ali Imran: 173-174).

Bunda,

Ada suatu masa dimana kita merasa buntu. Muncul sebuah persoalan atau mungkin banyak persoalan di dalam kehidupan kita yang belum menemukan solusinya. Berbagai upaya telah bunda lakukan, tapi tak kunjung selesai. Masalah-masalah itu terasa membebani . Bahkan banyak orang yang putus asa ketika menjalani ini. Meletakkan hasil di pundak mereka. Merasa bahwa solusi bisa diraih melalui usaha mereka semata.

Padahal tidak seperti itu, bunda. Selalu ada peran Allah dalam setiap peristiwa. Kita harus melibatkan Allah dalam seluruh aktifitas kita.

Bagaimana cara kita melibatkan Allah?
Yaitu dengan upaya syar'i. Upaya-upaya keluar dari persoalan yang sesuai dengan syariat. Dan ini bernilai pahala. Karena Allah terlibat dalam seluruh aktifitas kita.

Akan tetapi yang berbahaya adalah jika kita lakukan sebaliknya. Akibat terlalu berambisi keluar dari masalah, maka kita menghalalkan segala cara. Tak sabar ingin segera terbebas dari persoalan, cara apapun dipakai. Nauzubillahi min dzalika. Kita berlindung dari hal yang demikian ya bunda. Hal ini yang tidak boleh dilakukan.

Sejatinya itulah ujian. Ujian keimanan bagi kita. Allah ingin melihat bagaimana kita menyelesaikan persoalan tersebut. Allah ingin kita keluar melalui jalan yang sahih. Jalan yang benar.

Sekarang apa yang harus kita lakukan bunda, jika masalah kita seperti berhadapan dengan tembok tebal. Seperti berhenti di jalan buntu. Tak terlihat satupun jalan keluar. Lalu apa yang harus kita kerjakan?

Berjalanlah memutar, bunda shalihah.
Apakah jalan memutar itu? Yaitu jalan takwa. Jalan taqarrub ilallah. Dekati Allah sedekat-dekat sekuat kemampuan bunda. Kerjakan ibadah wajib, perbaiki kualitas dan kuantitasnya.

Kerjakan ibadah nafilah, perbaiki kuantitas dan kualitasnya. Lakukan aktifitas dakwah, ikuti kajian Islam, bela agama Allah, perbaiki hubungan dengan orangtua dan keluarga kita, ringankan kesulitan saudara kita dan upaya lainnya. Inilah jalan memutar yang tidak secara langsung menuju kepada solusi persoalan kita.

Lakukan semua hal yang membuat Allah semakin cinta dan sayang pada kita. In syaa allaah, tanpa disadari kita telah melalui jalan memutar. Jalan takwa. Jalan taqarrub ilallah. Yang pada akhirnya, dengan segala kerendahan hati kita memohon pada Sang Pemilik Kekuasaan untuk memudahkan urusan kita. Jika Allah ridho terhadap kita, tak ada yang tak diberi oleh Allah.

Bisa kan bunda? Kita coba ya..
laa haula wa laa quwwata illaa billah

Cirebon, 7/8/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#Indonesiamenulis
#day15



firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96).

Gempa lagi bunda. Info gempa terjadi di Lombok tadi malam. Istighfar yuk bunda. Mohon ampun pada Allah atas segala dosa-dosa kita yang banyak. Seraya muhasabah. Bisa jadi gempa adalah isyarat dari Allah atas kelalaian kita. Ada aktifitas dosa yang masih kita kerjakan. Segera tinggalkan aktifitas buruk tersebut. Lakukan ishlah, perbaikan.

Terus pelajari Islam, bunda. Pelajari perintah dan larangan Allah. Jangan merasa cukup hingga akhirnya berhenti belajar. Cari sahabat shalihah. Sahabat surga yang selalu mengingatkan kita ketika kita keluar jalur. Perbanyak ibadah. Dekatkan diri pada Allah. Berharap Allah ridho dan mengampuni kita.

Lakukan terus aktifitas amr ma'ruf nahyi munkar. Menyeru teman-teman, tetangga, kerabat kita yang dekat dan yang jauh, agar kembali kepada hukum Allah. Jangan membuat hukum sendiri. Sesungguhnya Allah yang paling berhak membuat aturan bagi manusia.

Kuatkan ikatan, persatuan antara sesama muslim. Sesungguhnya kita bersaudara. Jangan terpecahbelah. Musuh-musuh Islam senang dengan perpecahan karena akan lebih mudah menguasai kita. Kenali siapa lawan, siapa kawan ya bunda.
اللهم سلم إخواننا المسلمين من الزلزل في جزيرة لونبوك

Doakan saudara-saudara kita di tempat terjadinya gempa. Semoga Allah lindungi. Allah jaga mereka sekeluarga, dengan penjagaanNya yang Maha Sempurna aamiin.


Info Gempa Mag:6.8, 05-Aug-18 18:46:35 WIB, Lok:8.25 LS,116.49 BT (27 km Timur Laut LOMBOKUTARA-NTB), Kedlmn:10 Km ::BMKG

Ya Rabb, lindungi saudara kami..


Cirebon, 6/8/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#Indonesiamenulis
#day14

Pernahkah terjadi dalam hidupmu, bunda, ketika anak-anak melihatmu melakukan kesalahan? Anak-anak yang sejak kecil kita didik dengan hal baik, suatu hari melihat kita melakukan kesalahan. "Mengapa bunda berbohong? Bukankah bohong itu tak boleh?" tanya mereka. Atau mereka merasa sedih karena engkau tak melindungi mereka di saat mereka perlu itu. Mereka kecewa padamu, dan marah. Bunda yang selama ini dipercaya, ternyata melakukan kesalahan.

Jangan malu untuk minta maaf, bunda. Mereka pun manusia yang bermain dengan logika mereka yang sederhana. Jika tidak dilakukan komunikasi, tidak ditegakkan yang hak dari yang batil. Maka akan berujung bencana. Padahal mereka adalah tanggung jawab kita sebagai penerus amal salih. Jika hilang kepercayaan mereka terhadap kita, maka akan sulit kita berjalan beriringan menjalankan amanah Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Bukan hanya itu, mereka adalah tanggung jawab kita untuk mendidik mereka
Abdullah bin Umar r.a. berkata sebagai berikut.
أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك
Didiklah anakmu karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Selain itu, dia juga akan diberi pertanyaan mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.

Segera minta maaf ibu. Bisa jadi sebenarnya hanya salah persepsi. Atau mungkin mereka yang benar, bunda yang salah. Bukan karena mereka anak-anak, kalah senior dibanding kita, lalu kita selalu benar. Mereka manusia juga seperti kita, hanya tubuh mereka lebih kecil. Artinya, mereka memiliki indera bisa menangkap pesan yang kita sampaikan. Mereka memiliki akal dan mulai mampu mencerna peristiwa.

Tugas kita masih banyak. Amanah yang dibebankan di punggung terasa berat. Jika mereka menjauh karena melihat kesalahan kita, apa yang akan bunda sampaikan pada Rab? Atau apa jadinya jika kesalahanmu mereka simpan dalam memori, seperti luka yang siap terbuka suatu saat nanti. Sungguh beban kebangkitan sangat berat. Perjalanan umat masih sangat jauh. Jika anak-anak tetap dalam genggaman tangan kita, maka wajah kita akan lebih tegak menatap dunia. Astaghfirullahal azhim, wa atuubu ilaika

Cirebon, 5/7/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#IndonesiaMenulis
#day13


Selalu ada penjaga panji Rasul di setiap masa. Tak pernah kosong, pos itu selalu terisi. Begitupun bagi emak jaman now. Fenomena baru, kekinian, emak-emak ikut ambil bagian menjadi pejuang Islam. Penjaga panji Rasulullah.

Penampilan mereka biasa saja. Sederhana, jauh dari kesan sangar dan menakutkan seperti layaknya seorang penjaga. Tapi mereka bukan emak biasa. Ini adalah emak pengemban dakwah. Bahasa mereka pun sederhana. Menyampaikan Islam pada tetangga. Menggunakan berbagai uslub, ada yang berjualan di pasar, sambil momong cucu, mereka sebarkan Islam. Mengetuk pintu sebelah berdalih kehabisan jahe akan jadi obrolan panjang untuk sampainya syariat.

Seperti itulah ketika dahulu Islam disebarkan melalui lisan Mush'ab bin Umair. Di antara petani dan penduduk Madinah. Atau yang terjadi diantara rombongan haji. Saat mereka saling bertukar info tentang nabi baru, tentang agama baru. Islam masuk ke seluruh lobang semut. Tidak ada satu rumahpun yang terlewat dari Islam. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Silih berganti pejuang yang 'kembali' dan yang sakit, tak menyurutkan perjuangan. Pos penjaga panji tak pernah sepi. Selalu ada yang bergantian jaga, mengambil peran pada kebangkitan. Alaminya sperti itulah Islam. Lestari di muka bumi mengikis habis pemikiran yang rusak.

Siapa tahu hari ini giliran rumahmu yang diketuk, bunda. Jangan takut, bukakan saja pintu. Sebagaimana kau buka hatimu terhadap hidayah Allah yang sampai melalui mereka. Bukankah bunda senang disayang Allah? Sungguh hidayah itu akan mengantar bunda pada kasih sayang Allah. Emak-emak setrong berdiri di pintu rumahmu menyampaikan syariat padamu. Mengingatkanmu betapa sempitnya kehidupan  akhir jaman akibat hukum Allah dicampakkan.
Wahai bunda, siap-siap buka pintu ya.

Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُنْ  مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ  عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ  وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْن
"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 104).


Cirebon, 4/7/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#IndonesiaMenulis
#day12

Ilustrasi https://pin.it/3rfg2yvakefhbg



وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
سورة الروم )46)
Yang artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya. Mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS ar Rum: 46).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencaci angin karena angin itu diperintah”

doa saat angin bertiup:
اللهم إني أسألك خيرها و خير ما فيها و خير ما أرسلت به، و أعوذ بك من شرها و شر ما فيها و شر ما أرسلت به. رواه نسلم

Dalam sahih Muslim, ketika angin bertiup kencang, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,
 “Ya Allah sesungguhnya aku meminta kebaikan angin ini dan kebaikan yang dibawanya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini dan keburukan yang dibawanya”
atau  doa:
اللهم إني أسألك خيرها و أعوذ بك من شرها.
رواه أبو داود


Dua hari ini Cirebon berdebu. Angin yang kencang bertiup sepanjang waktu menerbangkan debu. Apa yang harus kita lakukan ketika datang angin seperti ini, wahai.bunda? Lakukan aktifitas seperti biasa. Pakaian kita dan anak-anak sesuaikan dengan kondisi alam. Upayakan agar rumah dan keluarga kita terlindung dari debu. Tak perlu mencela angin atau kecewa terhadap debu. Allah yang menguasai alam semesta. Kita hanya diminta melakukan antisipasi sesuai dengan potensi akal yang kita miliki. Jangan lupa bunda, antisipasi kita itu pun dinilai Allah.

Padahal bunda, jika dilihat dari atas nun jauh di sana, manusia pun tak ubahnya bagaikan debu. Kecil, tak berarti. Tapi mampu berbuat kerusakan. Mampu membunuh kaum muslim di Palestina, di Suriah. Mampu berbuat onar dengan LGBTnya. Mampu membuat aturan zalim yang menyengsarakan rakyat. Mampu menyakiti ulama dan pejuang-pejuang Islam.

Sungguh sebutir debu yang hina. Tapi apakah akan dibiarkan 'benda' sekecil debu ini tanpa hisab? Tidak wahai bunda, tidak ada yang luput dari hitungan Allah. Sungguh Ia Maha Teliti. Semua perbuatan kita dihisab. Buruknya dihisab. Yang baik pun dihisab. Maka buatlah penghisaban yang baik, wahai bunda. Isi hari-harimu dengan aktifitas yang bernilai ibadah di hadapan Allah.

Jadilah debu yang berkualitas di hadapan Allah. Yang memiliki hujah. Mampu mengemban amanah kebangkitan di bahumu. Pilihan ada padamu bunda, mau jadi debu hina yang kelak mendapat azab Allah? Atau debu mulia yang mampu mengguncang dunia. Barakallahu fii kunna.

Cirebon, 3/7/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#Indonesiamenulis
#day11

Ilustrasi. https://pin.it/umllvuwrlrcy3a
Powered by Blogger.