Jakarta pagi ini berbeda. Tampak cantik sumringah. Matahari bersinar manis menyambut mujahid mujahidah yang datang dari berbagai kota. Saling sapa, saling memberi. Bertemu orang-orang yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Mendadak cinta walaupun belum pernah mengenal sebelumnya. Akidah merekatkan.


Dakwah itu indah, selalu indah. Mengajak umat menapaki jalan Islam. Menemukan kasih sayang Allah dalam semua aturan-Nya. Sekali lagi mimbar cahaya. Jakarta menjadi saksi, bersatunya umat karena dorongan iman. Pendar-pendar cahayanya memenuhi ibu kota.
Jakarta pagi ini, dalam Islam keindahanmu akan selamanya abadi.


*****************

Dari Abu Malik Al-Asy’ary, bahwa suatu ketika, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyelesaikan sholatnya, maka beliau menghadap ke arah orang-orang dan bersabda,”Wahai manusia, dengarkan, pikirkan, dan amalkanlah. Sesungguhnya Allah azza wajalla memiliki hamba-hamba, yang mereka itu bukan para nabi dan bukan pula syuhada’, namun para nabi dan syuhada’ berharap seperti diri mereka, yang duduk bersanding dan dekat dengan Allah.”


Lalu datang seorang arab Badui di pinggir kerumunan orang-orang lalu menunjukkan jarinya ke arah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata,”Wahai nabi Allah, ada orang-orang yang mereka itu bukan nabi dan bukan pula syuhada’, yang para nabi dan syuhada’ itu berharap sekiranya seperti mereka, karena kedekatan mereka dengan Allah. Beritahukanlah kepada kami bagaimana gambaran mereka?”


Wajah beliau tampak berseri karena pertanyaan orang Badui tersebut. Maka beliau menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang tak pernah dikenal dan terasing dari keluarga dan kabilahnya. Mereka tidak diikat oleh hubungan kekerabatan,namun mereka saling mencintai karena Allah dan saling rukun. Allah meletakkan bagi mereka mimbar-mimbar dari cahaya, lalu mendudukkan mereka di atasnya. Lalu Allah membuat wajah mereka dari cahaya, membuat pakaian mereka dari cahaya, membuat manusia heran terhadap mereka pada hari Kiamat, sementara mereka sendiri tidak heran. Mereka adalah para Wali Allah yang tiada ketakutan atas diri mereka, dan mereka tidak bersedih hati.“(Musnad Imam Ahmad, 5/243)

#ReuniAkbar212
#BelaTauhid212
#Spirit212.




Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ala kulli syai'in qodir"
لا اله ال الله وحده لا شريك له له الملك و له الحمد و هو على كل شئ قدير


Wahai Allah, kami hadir pada reuni 212.
Ini bukan reuni biasa, tapi jauh lebih besar dari itu. Ini tentang syiar Islam. Tentang persatuan kaum Muslim yang merindukan kebangkitan. Tentang kecintaan kami terhadap Engkau, terhadap Rasul-Mu dan Alquran. Maka kami datang berbekal iman.


Wahai Allah, 
Engkaulah pemilik kerajaan di langit dan di bumi. 
Engkau penguasa siang dan malam. 
Seluruh hati kami pun ada dalam genggamanMu. 
Berikan kekuasaan bagi kaum muslim, ya Allah. 
Biarkan Islam saja yang mempimpin dunia hingga akhir zaman. Sebab kekuatan lain sangat mengecewakan dan merusak, tak mampu menandingi Islam.


Wahai Allah, satukan hati kami agar lurus terarah pada agamaMu. Menyukai yang Engkau cinta, dan membenci yang Engkau murkai. Berbagai jurus jahat yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam selamanya tak akan mendapat tempat di bumi milik-Mu. Maka hancurkanlah mereka ya Allah. 
Lemahkanlah mereka.


Wahai Allah, 
satukan kami dalam reuni ini. Sesungguhnya persatuan umat atas dasar iman, adalah perkara yang menggentarkan musuh-musuh Islam. Maka kalahkan mereka ya Allah. Kami merendahkan diri padaMu ya Allah, berikanlah kemenangan atas kami dalam waktu dekat. Berikan kemenangan bagi Islam agar kembali mengguncang dunia.


Untuk menyelamatkan saudara-saudara kami di Suriah, Palestina, Uyghur, Rohingya dan di seluruh sudut-sudut negeri. Menolong saudara kami yang kelaparan, yang terhina menerima gaji sedikit, yang diambil hak-haknya oleh penguasa, yang menjadi sakit dan lemah akibat penerapan hukum kufur.


Wahai Allah, tetaplah berada di sisi kami. Di sepanjang jalan kehidupan ini. Saksikanlah bahwa kami rindu diterapkannya syariatMu. Tak ada aturan sebaik Islam. Aturan buatan manusia selamanya tidak pantas bersanding dengan aturan buatan-Mu, wahai Allah.


Kami pun rindu akan berdiri tegaknya kekuatan perisai umat, Khilafah 'ala minhajin nubuwwah. Tegakkanlah lagi wahai Allah, Rabb Penguasa langit dan bumi. Dengannya, kami kaum muslim akan aman berlindung di balik perisainya. Merasakan penjagaan dan kasih sayang-Mu hingga akhir masa.

Allahumma ahyiina bil Islam..

******************************

Dalam Ali Imran 26-27 :

" قُلِ َّاللهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴿٢٦﴾ تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.
Di tangan Engkaulah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu
 

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam.
Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup.
Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)"

Oleh Lulu.

Perhelatan akbar akan digelar. Saatnya gladi bersih. Memeriksa beberapa hal yang mungkin terlewat pada saat pementasan. Bagi sebagian umat, 212 adalah reuni. Bagi sebagian umat yang lain yang senantiasa mengawasi, memperhatikan dan menjaga pemikiran umat, momen 212 adalah ajang dakwah. Dakwah menyeru kepada Islam.

Maka ketika jutaan muslim dari seluruh penjuru tanah air bahkan luar negeri berkumpul di Monas, saat itulah kita berdiri di sisi depan, samping kanan kiri dan belakang mereka, merapatkan barisan, mengarahkan umat pada tujuan yang 1. Yaitu menyamakan perasaaan marah dan cinta yang ada pada umat agar berada pada frekuensi yang sama yaitu hanya untuk Islam.

Sebab marah dan cinta yang dilandasi iman, akan membawa umat pada ketinggian berpikir. Hal inilah yang dilakukan oleh para syabab dan syabah. Selamanya mereka menjaga pemikiran umat. Agar umat berpikir jernih dan mampu mengaitkan seluruh fakta yang mengitari mereka dengan Islam.

Sebab umat sejatinya adalah sekolah bagi para syabab dan syabah. Mempelajari berbagai kondisi baik dan buruk yang menyentuh kehidupan umat. Kemudian melihat bagaimana umat menyelesaikan persoalannya. Jika umat belum mampu memecahkan persoalan dengan solusi sahih, maka tugas syabab dan syabah untuk memperbaikinya.

Begitupun dengan 212. Ajang yang dinanti seluruh umat termasuk para syabab dan syabah. Menjadi bukti bahwa bendera tauhid ternyata mampu mempersatukan. Langkah berikutnya adalah mengajak umat agar berhukum pada seluruh hukum Islam, sebagai realisasi dari tauhid. Kemudian umat bergerak bersama memperjuangkan Islam.

Lihatlah betapa umat rela mengerahkan seluruh energinya. Datang dengan ikhlas, menyiapkan kebutuhan mereka sendiri. Yang tinggal jauh dari pusat ibu kota telah bergerak mendekati arena dengan berbagai akomodasi dan sarana transportasi.

Mengajak teman, kerabat dan handai taulan untuk turut serta. Yang sakit berupaya untuk sehat. Yang memiliki anak-anak kecil, mengkondisikan putra putri mereka untuk safe selama perjalanan. Tak ada yang mampu menahan panas mabda. Tidak ada yang sanggup menghalangi kebenaran bisyarah. Kemenangan telah tampak jelas di depan mata.

Terbukti bahwa dakwah mampu mendorong para syabab dan syabah untuk terus bergerak membela Islam. Tak peduli framing jahat yang menggelinding bagai bola liar. Mereka tetap bersatu, menggenggam Islam. Memastikan posisi, dalam barisan pejuang kebangkitan umat.

Para syabab dan syabah yang hati dan pikirannya telah diikat oleh mabda, tak akan mudah goyah atau lemah. Persekusi terhadap bendera tauhid dan seluruh pemikiran Islam, tidak akan menggoyahkan langkah dakwah. Pantang surut ke belakang. Menyelesaikan segala apa yang telah kita awali (meminjam istilah ustaz Tachta Brader Karim).

Tak peduli masih ada oknum yang membenci bendera tauhid. Bendera yang dihinakan akan tetap berkibar, bahkan bertambah banyak. Jutaan umat siap memperjuangkannya. Semakin dipersekusi, akan semakin dicinta. Persekusi bendera dan seluruh simbol Islam tidak membuat umat tercerai berai. Justru membuat umat semakin bersatu.

Sayangnya para musuh Islam menutupi hati mereka dengan gelapnya kebencian. Seandainya mereka tahu, betapa indah rasanya memegang bendera tauhid, serta bertauhid dengan cara yang benar.

Al Islaamu ya'lu wa laa yu'laa alaihi. Kemenangan pasti datang, kekalahan ada pada musuh Islam.

Wahai para syabab dan syabah, bersiaplah, ini panggungmu!

Tsumma takuunu khilafatan 'ala minhajin nubuwwah.

******************
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam, beliau bersabda:

قال موسى عليه السلام : يا رب علمني شيئاً أذكرك وأدعوك به ، قال : قل يا موسى لا إله إلا الله . قال : كل عبادك يقولون هذا ، قال : يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ، ولا إله إلا الله في كفة ، مالت بهن لا إله إلا الله

”Berkata Musa ‘alahis salaam: ‘Wahai Rabb, ajarkanlah padaku sesuatu yang dengannya aku berzikir kepadaMu dan berdoa kepadaMu’.

Maka Allah berfirman: ‘Wahai Musa, Ucapkanlah: ‘Laa ilaaha illallaah’.

Musa berkata: ‘Setiap hambaMu mengucapkan kalimat ini’.

Allah berfirman: ‘Wahai Musa, seandainya langit yang tujuh serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan
dan kalimat Laa ilaaha illallaah diletakkan pada sisi lain timbangan.
Niscaya kalimat Laa ilaaha illallah lebih berat timbangannya’

Diriwayatkan ibnu Hiban dan Al-Haakim dan ia (Al-Haakim) mensahihkannya.

Sumber referensi: kitab Takattul Hizby
#KulwaTipsMenulisUntukEksis
#PRNgajiLiterasi
#KomunitasNgajiLiterasi
#day3


Dahulu kala di Negeri Peri, para peri tidak pandai menulis. Kehidupan berjalan seperti biasa. Mereka bersama, saling menyayangi tanpa ada perselisihan. Kehidupan berjalan tenang. Suasana damai menyelimuti Negeri Peri yang indah.


Hingga pada suatu ketika, Ratu Peri Cikgu meminta para peri untuk hadir. Seluruh peri bertanya-tanya, apakah gerangan yang membuat ratu peri mengumpulkan mereka? Adakah suatu pengumuman yang penting dari istana?




Maka seluruh peri bergegas berkumpul di alun-alun negeri. Sebuah tempat yang sejuk dan nyaman, beralaskan lantai marmer yang dingin dan bersih mengkilat. Seluruh peri berkumpul di sana, siap mendengarkan pesan ratu.


Ternyata saat itu ratu sedang gusar. Melihat anak-anak manusia selalu dalam intaian raksasa jahat yang siap menerkam mereka setiap saat. Anak-anak tersebut tidak sadar, bahwa mereka akan menjadi santapan monster jahat.



Maka kemudian, ratu peri membuka kelas menulis. Menyeru kepada seluruh peri cantik dan pintar untuk ikut di dalam kelas. Akhirnya mereka pun mempelajari berbagai macam bentuk tulisan. Dan setiap tulisan terbaik, selalu mendapat hadiah sepatu kaca dari Ratu Peri Cikgu.



Seluruh peri berlomba ingin mendapat hadiah. Hingga sejak saat itu, setiap waktu mereka terus menulis. Tidak ada hari yang kosong tanpa karya dari para peri. Tulisan peri baik hati, memiliki mantera sakti menjaga anak-anak manusia dari terkaman raksasa jahat.


Oleh sebab itu, jika saat ini kita melihat hujan. Perhatikanlah, jangan-jangan itu adalah hujan tulisan yang diturunkan para peri. Tulisan-tulisan indah yang selalu ditunggu anak-anak manusia. Yang menjaga dan melindungi mereka sampai akhir masa.



Ilustrasi: https://pinterest.com/pin/527202700110840192/?source_app=android

Cirebon, 6/11/2018,  Selasa pukul 20.32


#KulwaTipsMenulisUntukEksis
#PRNgajiLiterasi
#KomunitasNgajiLiterasi
#day2




Masih ingat Negeri Peri yang indah itu? Negeri yang seluruh perinya bersuka cita membuat tulisan-tulisan indah. Hari-hari mereka senantiasa dalam kesibukan. Tulisan mereka bagai hujan di tengah kemarau panjang. Membasahi, menyejukkan, menginspirasi, membuang segala kotoran dan kerusakan.


Alkisah di Negeri Peri, para peri berlomba menghasilkan tulisan. Tidak ada peri yang termangu atau bertopang dagu. Semua peri menghasilkan karya. Namun ada seorang peri yang tampak berbeda. Peri ini sangat cantik dan pemalu. Dia selalu menutupi wajahnya. Tapi peri ini istimewa. Dia sangat rajin menulis. Peri Minah Mahabbah, namanya.




Jumlah hari dalam sebulan kalah banyak dibandingkan jumlah tulisannya. Dia menulis seolah berlari. Menulis terus, dan terus, sepanjang waktu. Dan tulisannya tayang dimana-mana. Berkali-kali dia bahkan mengalahkan rekornya sendiri. Belum ada peri yang sanggup menulis sebanyak peri Minah. Apalagi melampauinya.


Ketika peri Minah sakit atau terhalang menulis dalam 1 hari. Maka ia akan menggantinya di hari yang berbeda. Begitu seterusnya. Hingga tidak ada satupun hari berlalu tanpa menulis. Setoran menulis sebulan selalu full. Peri Minah sangat fokus. Menulis untuk melindungi anak-anak manusia dari ancaman musuh.


Semua peri ingin seperti peri Minah, begitu pun aku. Maka seluruh peri berusaha mempelajari. Mencari rahasia, bagaimana peri Minah bisa menjadi seperti itu.
Ah, ternyata rahasia peri Minah ada pada jam ajaib.
Jam ajaib selalu mengingatkannya untuk menulis setiap hari. Malah dalam 1 hari, peri Minah bisa menghasilkan lebih dari 1 tulisan.
Berarti jika ia mampu melakukan itu, maka seluruh peri pun bisa. Termasuk juga aku.




Maka kini setiap bulannya aku selalu menempel di belakangnya. Karena peri Minah berlari. Aku pun ikut berlari mengejarnya.  Aku ingin samakan langkahku. Tak terhitung masa-masa aku baper atau lelah sehingga menulis terasa sangat sulit bagiku.





Namun aku berusaha kembali fokus, seperti peri Minah. Masih belum bisa melampauinya. Tapi aku tetap berlari di belakangnya. Mengejarnya.

Berlarilah terus peri Minah, aku akan terus mengejarmu!




Ilustrasi: http://pinterest.com/pin/612982199259156368/?source_app=android

Cirebon, 5/11/2018. Senin, pukul 20.13

#KulwaTipsMenulisUntukEksis
#PRNgajiLiterasi
#KomunitasNgajiLiterasi
#day1



Pada suatu masa, ada sebuah Negeri Peri yang indah. Penuh bunga berwarna-warni. Sawah dan ladang luas terhampar. Cahaya mentari hangat berpendar-pendar. Karena keindahannya, negeri tersebut diberi nama laksana perhiasan. Zamrud, batu permata yg berwarna hijau seperti lumut. Negeri zamrud, negeri peri.


Para peri hidup dengan damai. Peri-peri cantik dan baik hati. Tua dan muda. Mereka saling menyayangi dan mengasihi. Tidak ada kebencian. Juga tidak ada dusta di antara mereka, pastinya. Saling menyemangati. Mendukung satu dengan yang lain. Membantu dan menguatkan.




Uniknya, peri-peri di negeri itu suka menulis. Berbagai macam tulisan mereka pelajari. Ada fiksi, feature, cerpen, opini dan lainnya. Terakhir beberapa hari lalu mereka belajar membuat surat pembaca. Semua peri bergairah untuk belajar. Peri-peri senior siap mengajarkan ilmunya. Peri yunior siap menerima ilmu.


Karena semangat belajar, tidak jarang beberapa peri belajar di kelas menulis lain yang beragam. Mendua, mentiga. Sehingga akhirnya para peri akan bertemu teman-teman yang sama berkali-kali di kelas-kelas yang berbeda.




Jangan ditanya suasana belajar di Negeri Peri. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sangat menyenangkan. Bahkan tidak hanya itu, peri senior menghasilkan buku. Peri lain mengirim ke media online atau media cetak.


Tulisan-tulisan mereka, bagaikan hujan di siang hari yang terik. Sejuknya menyegarkan, masuk ke semua celah tanah yang kering. Menyegarkan. Membasahi. Menghidupkan tumbuhan yang mati. Mengikis semua kerusakan.


Inilah Negeri Peri. Sebuah negeri yang para perinya tak pernah berhenti menghasilkan karya. Bukan hanya sebuah, tapi banyak. Agar anak-anak manusia selamat dari bahaya, dan merasakan bahagia hingga akhir masa.








Ilustrasi: http://pinterest.com/pin/403072235374644741/?source_app=android

Cirebon, 4/11/2018, Ahad pukul 21.05


Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Apa kabar, sahabat?





Sekalipun kita hanya bersua di dunia maya, sesungguhnya kita saling menyayangi, saling menjaga karena Allah.
Sungguh kehadiranmu di lini masa (timeline, kbbi) membuat hari menjadi berwarna. Aku berharap kita saling mewarnai dan memberi keindahan di hari-hari netizen, sahabat dunia maya.
Atas izin Allah, Akidah Islam akan menyatukan seluruh hati umat aamiin.


Ada yang ingin aku sampaikan padamu tentang aktivitas kita di dunia maya. Kita upayakan ya untuk selalu meluruskan niat bahwa kehadiran kita di sini untuk dakwah.
Menyampaikan Islam.
Menunjukkan bahwa Islam itu indah dan solutif. Sebab solusi yang ditawarkan Islam tak lekang oleh waktu, tak lapuk oleh masa. Sekalipun tempat dan musim berganti, Islam selalu memberi solusi tepat bagi umat.


Oleh sebab itu, pastikan kita ada di posisi yang mana. Menyampaikan Islam dengan cara smart dan santun, atau sebaliknya.
Maka pelajari sebelum membuat status, share, like and komen. Pastikan bahwa kita tidak memberi ruang untuk hoax, bully, meledek atau bahasa sarkasme. Tidak juga menunjuk kepada person, tidak nyinyir dan mengejek.


Jangan lupa, di dalam QS An-Nahl: 125, Allah telah berfirman:


اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ  وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ  اِنَّ  رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk."


Jika kita melihat sebuah pelanggaran hukum Allah, maka sampaikan tulisan dengan bahasa yang ma'ruf dan landasan berpikir sahih sehingga umat justru akan terbawa dengan keindahan berpikir yang kita sampaikan.
Jangan memberi panggung untuk sebuah kezaliman, apalagi di lini masa kita. Jangan sampai musuh-musuh Islam terkenal karena tangan kita.


Coba check lini masa kita ya sahabat,
sama, aku pun melakukan yang demikian.
Kadang kita terpancing dengan status lucu tapi mengejek yang dishare oleh orang lain.
Cukup baca untuk kita sendiri, tertawa sendiri, cukup, that's enough.
Tak perlu dikomentari, dilike atau dishare. Sebab kita sedang menciptakan 'brand'. Membentuk image. Tentang kita sendiri. Kita ingin diingat orang sebagai apa.
Brand atau image itu juga penting untuk membuat langkah kita pasti dan tetap di dalam kebenaran.


Jangan lupa ya sahabat,
Kita sedang membentuk posisi, pastikan betul posisi kita dimana. Apakah tulus ingin menyebarkan agama Allah? Atau terpancing dengan berita yang kosong dari nilai ibadah.
Sebab sayang jika satuan waktu terkecil kita terbuang untuk aktivitas yang sia-sia. Kosong dari nilai ibadah. 

Sebagaimana Allah telah berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ  ۖ  وَنَحْنُ اَقْرَبُ  اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ  الشِّمَالِ قَعِيْدٌ
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang telah dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.Yaitu ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. [Qâf/50:16-18]


Pada saat kita melakukan aktivitas di dunia maya, sesungguhnya kita sedang menggenggam dunia. Tinggal dikembalikan kepada kita, mau kita apakan dunia ini. Apakah akan kita guncang dengan opini Islam, atau kita biarkan berbagai berita mengalir dengan sendirinya.
Atau jangan-jangan kita malah terbawa pada opini dengan solusi pragmatis. Pilihan ada pada kita.


Saling mengingatkan, saling menguatkan dan saling menjaga. Bersatu kita akan menjadi bangunan yang kokoh. Yang tetap dengan pemikiran Islamnya.
Yang cerdas, dan fokus pada kebangkitan umat. Siap ya,
semangat terus mengguncang dunia dengan Islam.

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضً

Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Shahih Muslim No.4684].

Al Islaamu Ya'lu wa Laa Yu'la alihi

Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sahabatmu,
Lulu.

Cirebon, 18/10/2018

#revowriter
#GerakanMedsosUntukDakwah



Powered by Blogger.