Langit pilu mendadak sendu
Ombak di laut pun berhenti merayu
Meradang melihatmu aku membeku
Berbangga, padahal jelaga ada padamu.


Setelah 17 menit Film Fitna
Kau tebarkan dusta pada semesta
Berbalut dengki dan angkara
Menista Kekasih yang dicinta.


Tak hanya sekali melayut menghina
Kini membuat kontes menggambar wajahnya
Menjadi kelakar manusia sedunia
Sungguh umat tanpa perisai tak mampu membela.


Cirebon, 19/9/2018

#TugasPuisi
#WritingClassWithHas
#Meeting3




Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya dia mengubah kemungkaran itu dengan tangan (kekuasaan)-nya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu, dengan kalbunya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”
(HR Abu Dawud).

Kemungkaran terjadi di setiap masa. Itu ujian bagi kita, bunda. Liyabluwakum ayyukum ahsanu amalan, untuk mengetahui siapa di antara kita yang paling baik amal atau aktivitasnya. Yaitu yang paling sesuai dengan perintah Allah.

Ketika kita melihat kemungkaran, maka kewajiban kita adalah mencegah. Karena segala yang kita lakukan akan dihisab. Aktivitas baik ditanya oleh Allah, yang buruk pun ditanya. Mencegah seseorang dari bermaksiat kepada Allah, akan berpahala. Sebaliknya pelaku maksiat atau kemungkaran akan mendapat dosa.

Di sinilah peran kita, wahai bunda. Sampaikan Islam. In syaa allaah akan menjadi amal salih buat kita. Tidak saja kepada keluarga. Tapi juga pada tetangga dan karib kerabat. Sama halnya ketika kita menasehati penguasa untuk menegakkan amal salih. Mengurusi rakyat sesuai yang diperintahkan Allah, wajib hukumnya.

Sebaliknya jika kita diamkan kemungkaran, maka kerusakan yang terjadi di tengah umat akan meluas. Orang-orang salih yang ada di tengah umat pun akan tergelincir. Terbawa sistem rusak yang dibuat oleh penguasa. Sehingga dosa dan pelanggaran terjadi dimana-mana.

Lebih dari itu, Rasulullah saw. pernah bersabda, "Demi Allah Yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya. Sungguh ada sekelompok dari umat-ku (kaum Muslim) yang kelak dikeluarkan dari kuburnya dalam keadaan wajah-wajah mereka menyerupai kera dan babi. Hal itu disebabkan karena mereka menjilat (mencari muka) orang-orang yang melanggar syariah Allah dan Rasul-Nya. Mereka berdiam diri, padahal mereka mampu mencegah (kemungkarannya).”
 (Abu Nu'im al-Ashbahani, Ma'rifah ash-Shahâbah, 13/44).

Kita tidak boleh diam, bunda. Sampaikan kebenaran yang datangnya dari Allah. Inilah sejatinya sebuah kemerdekaan. Merdeka dari segala bentuk penghambaan kepada makhluk. Beralih kepada penghambaan yang hakiki kepada Allah Pencipta semesta alam.
Al Islaamu ya'lu wa laa yu'la 'alaihi.

Cirebon, 19/8/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#Indonesiamenulis
#day27

🌤🌤 Bismillah... ☀️☀️

Allah SWT berfirman:
وَاصْبِرْ نَـفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْ  ۚ  تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا  ۚ  وَ لَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰٮهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا

"Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas."

(QS. Al-Kahf: Ayat 28).

***

Merdeka adalah suatu keadaan dimana manusia bebas menyembah Rabnya. Taat dan mengikuti aturan Allah, bukan aturan buatan manusia.
Jika kita sepakat bahwa kehidupan sempit saat ini adalah buah tangan kita sendiri. Maka kita pula yang mampu mengeluarkan diri kita menuju keadaan yang lapang. Kita mampu merubahnya, bunda. Caranya adalah kembali kepada hukum Allah.

Kita adalah agen perubahan, bunda. Kita punya peran untuk melakukan perubahan. Melalui aktivitas dakwah. Yaitu dengan mengajak umat untuk mengenal Islam. Sampaikan keindahan Islam. Bahwa Islam bukan hanya ibadah individu, seperti puasa, zakat dan shalat. Tapi juga memiliki sistem ekonomi, sistem politik, sistem pendidikan, sistem pergaulan, sistem persanksian dan lainnya. Dan seluruh sistem itu merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Oleh sebab itu harus diterapkan.

Perlahan-lahan sampaikan hal tersebut kepada umat. Sebab itu adalah sesuatu yang asing bagi mereka. Umat terbiasa hidup dalam atmosfer sekularisme yang datangnya dari barat. Hingga tidak mengenal sistem kehidupan yang datang dari akidahnya sendiri. Padahal Allah sudah menyampaikan jauh-jauh hari melalui Alquran. Rasulullah pun pernah mencontohkan hingga terbentuk negara yang menggunakan aturan Islam sebagai sumber hukum, mampu menguasai 2/3 dunia selama lebih dari 13 abad.

Sampaikan pada umat dengan penuh kesabaran dan niatkan karena Allah. In syaa allaah kelak akan menambah berat timbangan amal baik kita di yaumul hisab. Doakan mereka agar lembut hatinya dan mudah menerima Islam. Dengan kembali kepada hukum Allah, maka kemerdekaan hakiki bagi umat akan segera terwujud. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Cirebon, 18/8/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#Indonesiamenulis
#day26

 

Allah swt Berfirman,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS.Thaha:124).

Pantas saja hidup kita sempit, bunda. Ternyata karena inilah penyebabnya. Kita berpaling dari peringatan Allah. Diberi tahu, tapi kita abaikan. Allah cegah kita berbuat kerusakan, malah kita lakukan pelanggaran. Jika hal seperti itu terus menerus terjadi, bisa dipastikan kehidupan kita akan sempit. Pantas saja, rupanya kita sendiri yang menciptakan 'kesempitan' itu.

Lihat dalam rumah kita, bunda. Adakah pelanggaran masih kita kerjakan. Diskusikan dengan suami, adakah beliau pulang dengan membawa nafkah dari cara yang haram? Perhatikan pergaulan anak-anak kita. Sudahkah terjaga atau belum pergaulan mereka. Masihkah terjadi ikhtilat atau khalwat? Bagaimana dengan pakaian kita, sudah tepatkah menutup aurat seperti yang diperintahkan Allah pada QS. Al ahzab ayat 59 dan QS. An nur ayat 31?

Jika belum, segera perbaiki bunda. Kerja sama dengan seisi rumah untuk menegakkan Islam. Pastikan bahwa keluarga kita aman dari azab Allah yang pedih. Jika sudah, mulai melihat keluar rumah. Perhatikan bagaimana tetangga kita, karib kerabat dan teman-teman berinteraksi dengan Islam. Sudahkah mereka menjadikan Allah dan rasulnya nomer 1 dibandingkan semua kepentingan mereka? Jika belum, perbaikilah bunda melalui aktifitas dakwah.

Kemudian lihat bagaimana kondisi masyarakat secara keseluruhan. Lihat kondisi umat. Apakah mereka bisa beribadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Apakah mereka sejahtera, tercukupi pangan, sandang dan papan? Jika belum, perhatikan bunda apa yang terjadi? Kaitkan dengan ayat di atas tadi, apakah penguasa kita berpaling dari tuntunan Allah?

Jika benar, berarti kita harus menyeru kepada penguasa agar kembali kepada Allah. Mengoreksi penguasa. Karena mereka kelak akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah. Dan itu sangat berat bagi penguasa. Di tangan merekalah tanggung jawab pengurusan umat itu dibebankan. Jangan lupa bunda, bukan hanya shalat, puasa dan zakat yang diperintahkan Allah dan dicontohkan rasul. Pengurusan umat pun mengikuti panduan itu. Harus sesuai dengan Alquran dan mengikuti petunjuk rasul.

Jika ini sudah dikerjakan, maka atas izin Allah kehidupan kita tidak lagi sempit. Inilah merdeka yang sesungguhnya. Kemerdekaan yang hakiki yaitu berada dalam ketaatan dan tunduk pada Rab Pencipta alam semesta.

Cirebon, 17/8/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#Indonesiamenulis
#day25





Berapa tahun usia negara ini? Katanya kita sudah merdeka, benarkah bunda? Pekik kemerdekaan terdengar di sana sini. Seolah yang sungguh kita sudah merdeka.

Mengapa 'seolah', bunda?
Karena hidup kita makin hari makin sempit. Makanan nyaris tak terbeli. Anak-anak kurang gizi. Uang di tangan cepat sekali habis. Padahal peluh di sekujur tubuh suami belumlah kering. Inikah merdeka, bunda?

Biaya sekolah tinggi. Menjadikan anak-anak pintar bagaikan mimpi. Berbagai perombakan sistem pendidikan dan kurikulum bukannya memudahkan, tapi membuat rakyat miskin semakin jauh mengakses pendidikan. Generasi penerus bangsa sulit membuat prestasi. Jika sudah begini, 20 tahun ke depan akan seperti apa kualitas pemimpin negeri ini?

Belum lagi ketika keluarga sakit. Beban berobat yang semestinya ditanggung oleh negara, justru diserahkan kepada rakyat dengan konsep ta'awun berbalut riba. Serasa orang sakit menjadi bertambah-tambah sakitnya jika memikirkan debu-debu riba yang menyelimutinya.

Persoalan ini dihadapi kita semua, bunda. Kita terbiasa dengan atmosfer seperti ini hingga merasa bahwa kita sudah merdeka. Di media cetak, elektronik, semua meneriakkan 'merdeka', maka kita akhirnya terbawa suasana seolah kita sudah merdeka. Padahal belum, bunda. Ini belum merdeka. Jika kita sudah merdeka, maka tak akan sesempit ini kehidupan kita.

Firman Allah di dalamAl-Qur’an:
…dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur:55).

Perintah Allah seperti itu, bunda, kerjakan amal saleh, aktifitas baik. Baik menurut siapa, bunda? Menurut Allah pastinya. Aktifitas baik, atau amal saleh adalah aktifitas yang diridai Allah. Diperintahkan Allah untuk dikerjakan, dan yang dilarang Allah maka kita tinggalkan.
Kita semua bunda. Anak-anak yang belum baligh ajarkan beramal saleh. Agar kelak mereka dewasa, mereka tahu bagaimana menjaga aktifitasnya tetap dalam koridor syara'. Begitu pun kita dan suami, sama-sama melakukan amal saleh, kerjakan aktifitas yang diridai Allah.

Bagaimana dengan penguasa, bunda? Perlukah beramal saleh?
Harus bunda. Penguasa diperintahkan Allah untuk mengurusi rakyatnya. Sejahtera atau sengsaranya rakyat, maka penguasa kelak akan diminta pertanggungjawabannya. Berarti mengurusi rakyat pun diatur oleh Allah.

Jika hal ini sudah ditegakkan, maka janji Allah akan terbukti, bahwa akan hilang ketakutan dalam diri kita berganti dengan rasa aman. Inilah merdeka yang sesungguhnya. Yaitu melepaskan diri dari penghambaan kepada makhluk beralih kepada Pencipta. Tsumma takuunu khilafatan 'ala minhajin nubuwwah.

Cirebon, 16/8/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#IndonesiaMenulis
#day24

Ilustrasi.  https://pin.it/da6euzlrryksuo


Dikatakan bahwa tahun ini merupakan tahun politik. Maka yang terlihat di media adalah, ada pemilihan pasangan, ada yang mulai check kesehatan, ada juga yang sudah ukur baju. Masyarakat terbawa geliat berita. Mulai menebak-nebak pasangan mana yang lebih tepat untuk memimpin negeri ini, menurut mereka. Masing-masing berbeda versi. Masing-masing memiliki alasan.

Namun ada juga yang tak peduli. Merasa bahwa hal tersebut bukan wilayah yang perlu dipikirkan, maka tak mau berpikir tentang politik. Sebaliknya ada pula yang merasa bahwa kehidupan sudah sangat sempit, sehingga tak ada gunanya berpikir tentang politik. Lalu mana yang benar, bagaimana dengan bunda?

Kita kembalikan pada Islam ya bun?! Karena Islam merupakan landasan berpikir bagi umat.
Bahwasanya dalam Islam, politik adalah ri'ayah su'unil ummah. Yaitu, pengurusan urusan umat. Jadi segala hal yang terkait dengan urusan umat, maka itu disebut politik. Memaknai politik hanya pada pemilihan pemimpin daerah atau negara, adalah makna yang sempit. Dan itu datang bukan dari pemikiran Islam.

Lalu apakah boleh kita mengikuti berita tentang pemilihan pemimpin? Boleh saja bunda, asalkan tetap dalam kerangka Islam. Lihat apakah pasangan calon (paslon) pemimpin tersebut akan menerapkan syariat Islam? Atau akan mengkebiri aturan yang datangnya dari Rab Penguasa semesta alam? Maka dari situ akan tampak, kualitas kepemimpinan mereka kelak. Tak peduli paslon tersebut hafiz Quran atau ulama, tapi jika dia berani mengubah aturan Allah, maka dia tak layak kita pilih.

Lalu kapan tahun politik dalam Islam?
Setiap saat umat berpolitik. Memikirkan harga barang kebutuhan pokok yang terus melambung, adalah berpikir politis. Bpjs yang semakin dikurangi pelayanannya, itu juga perkara politik. Pengemis yang membawa anak balita sepanjang lampu merah, itu pun urusan umat, urusan politik. Yang terjadi di sekitar kita, menjadi bagian dari kehidupan umat. Tak perlu menunggu 5 tahun, peristiwa politik terjadi setiap waktu dan membutuhkan penanganan segera.

Apakah bunda perlu berpikir politik?
Sangat perlu, karena bunda bagian dari umat. Berarti bunda pun memiliki kontribusi untuk mendapat 'riayah' dari penguasa. Dan berhak meminta jika pengurusan tersebut tidak bunda terima. Ikut memperjuangkan urusan umat, adalah perkara yang in syaa allaah menambah berat timbangan amal baik kita.

Rasulullah mengecam umat Islam yang tidak peduli nasib saudara seiman.
من لا يهتم بأمر المسلمين فليس منهم
“Barangsiapa yang tidak peduli urusan kaum Muslimin, Maka Dia bukan golonganku.” (Al-Hadits

Ternyata Islam tidak hanya urusan ibadah seperti shalat, puasa dan zakat. Akan tetapi memiliki pemahaman tersendiri terhadap politik. Bahkan dalam Islam, politik memiliki makna yang luas. Jika semua bunda mempelajari politik Islam, maka bunda memiliki peran dalam kebangkitan umat Islam. Siap mengguncang dunia ya bunda, Allahu Akbar!!

Cirebon, 15/8/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#IndonesiaMenulis
#day23

Allah SWT berfirman:
"Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),"
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 7).

Perintah Allah, seperti itu bunda. Jika kita telah selesai pada satu urusan, maka bersungguh-sungguhlah pada urusan lain. Artinya kita tidak boleh berhenti, bunda. Harus terus memusatkan perhatian kita untuk mendapat rida Allah. Mencari cara agar Allah sayang pada kita.

Masalah seolah datang dan pergi. Sebentar istirahat, beres satu persoalan. Kemudian akan muncul hal baru. Sejatinya memang seperti itulah kehidupan ini, bunda. Tak perlu kecil hati. Diberi ujian, sebelum kita naik kelas. Husnuzon saja bunda, bahwa ujian untuk anak SMP tak mungkin diberikan pada anak SD. Artinya semua soal yang ujian yang harus kita jawab, adalah kapasitas kita untuk menyelesaikannya.

Bukankah indah bunda, jika kita berpikir seperti itu?
Maka kita tidak menjadi gelisah atau berburuk sangka pada Allah. Karena pada saat ujian pun, kita tidak mungkin dibiarkan sendiri oleh Allah. Dia selalu punya banyak cara untuk menolong kita melalui hal yang tidak terduga.

Allah SWT berfirman:
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,"
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5)

Belum lagi bantuan dari bala tentara Allah yang bermacam wujudnya, siap sedia mengulurkan tangan membantu kita. Ada yang datang memberi bantuan materi, ada yang berupa tenaga, ada pula dengan pelukan dan telinga yang siap mendengar di saat dada kita terasa penuh sesak. Lihatlah bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang beriman itu, sendiri.

Lalu apa yang harus kita lakukan, bunda?
Tetap kuatkan keimanan kita. Istiqomah. Percaya bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Berkuasa untuk memberi ujian, juga kuasa meluluskan kita dari ujian. Dengan syarat, jangan nyontek ya bun, jangan curang. Tetap berpegang pada syariat.

Cari lingkungan yang kondusif, yaitu sahabat-sahabat surga. Sahabat ini kelak akan saling menarik tangan kita untuk masuk ke dalam surga dan terhindar dari neraka. Sahabat surga menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat. Mereka menjaga keimanan kita agar tetap subur terpelihara.

Tetap semangat ya bunda. Tidak ada yang abadi di dunia ini, tidak juga masalah-masalahmu. Semua akan berakhir. Jadilah bunda tangguh. Pastikan masalah selesai karena kita naik kelas ya bunda.
Wa ila robbika farghob.

Cirebon, 14/8/2018

#sarapankata
#kmobatch14
#kmoIndonesia
#Indonesiamenulis
#day22

Powered by Blogger.