'Sesuatu' Buat Ibu

2 Comments


Itu kata-kata yang biasa diucapkan anakku, aku punya 'sesuatu' buat ibu. Lalu aku akan terkejut, kehabisan kata-kata dan harap-harap cemas, 'sesuatu' gerangan apakah yang dia bawa buatku.  Si bungsu ini lucu selalu senang memberi kejutan. Pulang sekolah selalu ada saja yang dia bawa. Dan itu untuk aku, ibunya.


Dengan wajah yang masih berkeringat. Rambut yang berantakan. Dia turun dari mobil jemputan sekolah TKnya. Sembunyikan tangan di belakang punggungnya. Mencoba untuk rahasia. Kemudian tak lama dia ulurkan tangannya padaku. Gantungan kunci terbuat dari pita berwarna biru putih berbentuk. Lecek. Tapi indah di mataku.


Sangat menyenangkan mengenang kejadian itu, 12 tahun lalu. Tatkala waktu berlari begitu cepat, yang tersisa hanya kenangan saat anak-anak masih kecil-kecil. Kenangan bersama kelucuan mereka. Karakter masing-masing yang unik. Tapi di situlah peran kita. Menjaga karakter mereka yang unik itu agar tetap terbimbing Islam.


Sambil aku mandikan kemudian ganti dengan baju rumah yang bersih, dengan bersemangat dia bercerita tentang gantungan kunci itu. Dia bilang selama ini sisihkan uang jajan untuk membelinya di depan sekolah. Tak percaya aku anak berusia 5 tahun ini bisa mengerti kebutuhanku. Rupanya dia memperhatikan ketika aku berbicara dengan bapak dan kakak-kakaknya bahwa aku perlu gantungan kunci. Untuk membedakan kunci satu dengan lainnya.


Akhirnya kebiasaan memberi kejutan untuk aku berlanjut terus dari waktu ke waktu. Sehingga pernah satu kali sepulangnya dari sekolah, "Aku punya sesuatu buat ibu". Masih dengan kondisi yang tak jauh berbeda dengan yang pertama, wajah yang berkeringat, pakaian lusuh dan berantakan. Dia keluarkan 'sesuatu' dari saku celana seragam merahnya. Dua bungkus bakso campur mi dan bihun serta saos, kecap dan lainnya. 


Bakso itu tampak tak sedap dipandang, tak mengundang selera. Tapi perhatiannya yang luar biasa yang membuatku terharu. Tak terbayang 2 bungkus plastik bakso yang panas ada di dalam sakunya sepanjang perjalan dari sekolah ke rumah. "Wah, enak banget, koq tau sih ibu pengen bakso. Kita makan sama-sama ya". Rambut ikalnya bergerak-gerak ketika dia mengangguk senang.


Anak laki-lakiku ini berbeda dengan  kedua kakaknya. Dia senang memberi kejutan buat aku. Dia selalu punya 'sesuatu' buat ibu. Dan setiap kali itu terjadi, aku selalu pasang wajah terkejut, dengan senyum 3 jari dan wajah sumringah. Ekspresi aku yang seperti itu yang membuatnya senang.


Akan tetapi prosesi memberi kejutan ini kadang tak berjalan sempurna. Pernah satu hari dengan mata berkaca-kaca dia memberiku 2 bungkus es kelapa muda berselimutkan pasir dan tanah.Es kelapa yang semula menjadi 'sesuatu' buat ibu, rupanya jatuh bersamaan dengan sepedanya. Tapi seperti biasa, aku kembali tampil dengan setting wajah terkejut dan bahagia. Lalu menyelesaikan kesedihannya dengan mengajaknya minum es kelapa bersama, "Enggak apa-apa, kan cuma plastik luarnya yang kotor. Es kelapanya masih aman."


Anak-anak adalah titipan Allah. Kita hanya dititipi sekejap saja. Tak lama. Mereka terus tumbuh besar berpacu dengan waktu. Ada kalanya kita lelah mendengar rewelnya anak-anak. Merasa tidak bebas karena harus membawa mereka di semua aktifitas kita. Tapi itu hanya sebentar. Mereka terus tumbuh meninggalkan masa lalu. Meninggalkan semua kenangan saat mereka masih kecil.


Siang tadi, dia tiba-tiba muncul di kamarku. Anakku datang dari Jakarta. Mataku masih setengah terpejam dengan kesadaran yang juga belum utuh, melihat senyumnya, "Aku bawa sesuatu buat ibu". Dia ulurkan i dus brownies kukus. Seperti biasa, aku terkejut dan bahagia. Tapi kali ini bukan terkejut dan bahagia setingan. Ini sungguhan. Tanpa terasa mataku basah.


Cirebon, 9Juli 2018
#kelasfeature
#ayobercerita


You may also like

2 comments:

Powered by Blogger.